Sekretariat : Jl Topaz V No 32 Perum Pondok Permata Suci (PPS ) Kec. Manyar Kab. Gresik

Email : yayasan_allail@yahoo.com / yayasanallail14@gmail.com Website : www.yayasanallail.com. Phone/SMS/WA. 085706408238 No. Rek BSM: 7074005475 BRI: 759601002831534 BCA Syari'ah: 0338989899 BNI: 0362314663 a/n Yayasan AL Lail

Sekretariat : Jl Topaz V No 32 Perum Pondok Permata Suci (PPS ) Kec. Manyar Kab. Gresik

Email : yayasan_allail@yahoo.com / yayasanallail14@gmail.com Website : www.yayasanallail.com. Phone/SMS/WA. 085706408238 No. Rek BSM: 7074005475 BRI: 759601002831534 BCA Syari'ah: 0338989899 BNI: 0362314663 a/n Yayasan AL Lail

Sekretariat : Jl Topaz V No 32 Perum Pondok Permata Suci (PPS ) Kec. Manyar Kab. Gresik

Email : yayasan_allail@yahoo.com / yayasanallail14@gmail.com Website : www.yayasanallail.com. Phone/SMS/WA. 085706408238 No. Rek BSM: 7074005475 BRI: 759601002831534 BCA Syari'ah: 0338989899 BNI: 0362314663 a/n Yayasan AL Lail

Sekretariat : Jl Topaz V No 32 Perum Pondok Permata Suci (PPS ) Kec. Manyar Kab. Gresik

Email : yayasan_allail@yahoo.com / yayasanallail14@gmail.com Website : www.yayasanallail.com. Phone/SMS/WA. 085706408238 No. Rek BSM: 7074005475 BRI: 759601002831534 BCA Syari'ah: 0338989899 BNI: 0362314663 a/n Yayasan AL Lail

Senin, 11 Februari 2019

Usia Bukan Pembatas Untuk Belajar


By. Redaksi
Ketika kita berada di bangku Sekolah, mungkin kita sering mendengar motivasi dari guru kita bahwa “belajarlah sampai kita mati”. Motivasi tersebut merupakan penjelasan tentang urgensi belajar. Ilmu yang harus kita pelajari sangatlah banyak, bahkan saking banyaknya umur kitapun tidak cukup untuk mencarinya. Karenanya rugi kalau kita tidak memanfaatkan umur kita untuk senantiasa terus belajar. Tentu tidak semuanya harus melalui jalur formal, karena hal itu tidak semuanya bisa kita jangkau dengan kondisi kita yang beragam.
Tradisi cinta ilmu sejatinya sudah menjadi ciri khas seorang Muslim. Hal demikian sudah dicontohkan oleh para ulama’ terdahulu yang tekun dalam mencari ilmu hingga melahirkan karya-karya yang menjadi pedoman hingga sekarang. Maka tidak heran jika suatu hari Imam Ahmad rahimahullah pernah ditanya ketika rambut beliau sudah tampak memutih, “Sampai kapan Engkau masih bersama dengan wadah tinta?” Maksudnya, orang tersebut heran ketika Imam Ahmad rahimahullah tetap bersama dengan alat-alat untuk mencari ilmu seperti kertas dan wadah tinta, padahal usia beliau tidak lagi muda. Sehingga dikatakan dalam sebuah kalimat yang terkenal, “Bersama wadah tinta sampai ke liang kubur”.
Mungkin kisah itu sudah menjadi catatan klasik, tapi makna yang tersirat sangatlah menarik dan mengandug makna yang sangat energik. Sehingga buah karyanya menjadi pedoman hidup para generasi setelahnya. Dan tentu yang demikian juga perlu ditiru jejaknya guna melahirkan generasi yang setara walaupun tidak sama dan tidak akan pernah sama.

Dalam konteks saat ini mungkin juga kita bisa petik ilmu “semangat” dari para pemburu ilmu. Yang teranyar misalnya potret kakek berusia 94 tahun bernama David Bottomley yang penulis temukan di Republika.co.id edisi 06 Februari 2019. David Bottomley menjalani  studi S-3 secara paruh waktu selama tujuh tahun dan kini tercatat sebagai wisudawan tertua di Australia yang berhasil menyandang gelar PhD. Dan Pada Rabu 06 Februari 2019, dia pun lulus dari Universitas Curtin di Perth dalam bidang metode mengajar di ruang kelas.
Maka kisah-kisah tersebut jangan hanya kita jadikan sebagai kisah populer semata, akan tetapi kita jadikan sebagai kisah fakta yang tersirat hikmah di dalamnya, terlebih oleh para generasi penerus bangsa calon pewaris perjuangan dalam menata dan mengelola bangsa dan negara dengan segudang problem yang ada di dalamnya.
Diam bukanlah sebuah solusi walaupun diam belum tentu sunyi. Bergerakpun juga bukanlah solusi jika gerakan kita tidak tentu arah dan tujuan yang berarti. Maka memadukan keduanya dengan ilmu adalah energi yang akan dapat merubah segalanya. Hal demikian sudah Rasulullah wasiatkan sebagaimana termaktub dalam haditsnya :
”Barang siapa yang menghendaki kehidupan dunia maka wajib baginya memiliki ilmu, dan barang siapa yang menghendaki kehidupan Akhirat, maka wajib baginya memiliki ilmu, dan barang siapa menghendaki keduanya maka wajib baginya memiliki ilmu”. (HR. Turmudzi).
Perkembangan informasi dan teknologi serta pesatnya media yang menghiasinya tentu menjadi wadah buat para generasi untuk berkreasi, mengekspresikan dan mengeksplorasikan gagasan-gagasan cemerlang menuju masa depan yang gemilang. Maka hal ini menjadi peluang besar khususnya anak muda untuk terus belajar mengais ilmu sebanyak-banyaknya sampai pada titik tiga, yang artinya dalam ilmu matematika adalah tidak terhingga, jangan hanya dijadikan sebagai alat untuk publikasi diri tanpa nilai yang berarti. Merasa sulit sudah pasti, tapi lebih sulit lagi jika kita tidak pernah memulai.
Semoga catatan singkat ini dapat menambah motivasi bagi para generasi, guna lahir para generasi yang hebat di masa yang akan datang.[]
*Redaksi

Selasa, 22 Januari 2019

Membentuk Generasi Qur'ani

Kaum Mukminin seharusnya merenungkan dalam-dalam, terutama mereka yang terlibat dalam Gerakan Islam (Harakah Islamiyah) atau yang akitve dibidang dakwah. Mereka patut merenungkan, betapa Al-Qur’an mempunyai pengaruh yang sangat menentukan terhadap masa depan dakwah. Sebuah methode (minhaj) yang diberikan oleh Allah Azza wa Jalla secara sempurna, dan telah menuntun kehidupan manusia, sampai hari ini.

Dakwah Rasulullah Shallahu alaihi wa sallam, pernah menghasilkan generasi yang tidak pernah dikenal sebelumnya, yaitu generasi para Shahabat. Generasi yang memiliki ciri atau karakter tersendiri, dan mempunyai pengaruh yang luar biasa dalam sejarah Islam. Nampaknya dakwah ini tidak pernah lagi menghasilan sebuah generasi seperti yang pernah dihasilkan generasi para Shahabat.

Memang sepanjang sejarah selalu ada orang-orang besar, yang menghiasi lembaran-lembaran sejarah, tetapi mereka tidak akan pernah dapat menyamai generasi para Shahabat. Tidak pernah terjadi sepanjang sejarah, di mana berkumpul sedemikian banyaknya, pada suatu tempat dan periode, sebagaimana terjadi pada periode dakwah yang pertama, yang dilaksanakan oleh Rasulullah Shallahu alaihi wa sallam.

Allah Azza Wa Jalla telah menjamin untuk memerlihara ketinggian dakwah ini, dan mengajarkan bahwa dakwah ini terus berjalan dengan tidak adanya Rasulullah Shallahu alaihi wa sallam. Semua ini tak lain merupakan buah dari dakwah Beliau Shallahu alaihi wa sallam, yang melaksanakan dakwah selama 23 tahun, lalu Rasulullah Shallahu alaihi wa sallam dijemput-Nya, dikekalkan-Nya agama ini sampai akhir zaman. Dakwah terus berjalan dengan penuh geloranya, karena telah adanya Al-Qur’an dan As-Sunnah, yang merupakan warisan kekal, sepanjang zaman dans sejarah manusia.

Mengapa generasi pertama dalam dakwah ini, mempunyai karakter yang khas, dan tidak akan pernah terjadi lagi sesudahnya, karena mereka berinteraksi langsung dengan Rasulullah Shallahu alaihi wa sallam, dan menerima wahyu (Al-Qur’an), dan mengamalkannya. Mereka mengambil Al-Qur’an sebagai sumber bagi kehidupannya. Tidak mengambil sumber dari sumber-submer yang bathil buatan manusia. Seperti digambarkan Rasulullah Shallahu alaihi wa sallam :

“Sewaktu Aisyah RA, ditanya tentang budi-pekerti Rasul Shallahu alaihi wa sallam, ia berkata : “Budi pekertinya adalah Al-Qur’an”.

Al-Qur’an menjadi satu-satunya sumber bagi kehidupan mereka, menjadi ukuran, dan dan dasar berpikir mereka. Ketika itu, bukan manusia tidak memiliki peradaban di bidang ilmu pengetahuan dan peradaban. Bukan. Justru saat itu peradaban Romawi, ilmu pengetahuan, dan hukum Romawi, yang sekarang masih menjadi ciri atau ideologi Eropa.

Bahkan terdapat pengaruh peradaban Yunani, yang begitu kuat, di dalam kehidupan, sumber peradaban materi, yang sekarang terus mengalami dekadensi, yang menuju kehancurannya. Mengapa generasi pertama dakwah ini, membatasi diri, dan tidak mau menerima berbagai peradaban dan pemikiran yang ada waktu, dan sudah sangat maju? Rasulullah Shallahu alaihi wa sallam, ingin membentuk sebuah generasi baru, yang dikenal dengan “Generasi Qur’ani”. Mereka yang benar-benar hidup dibawah naungan Al-Qur’an. Tidak hidup dibawah pengaruh atau terkontaminasi dengan peradaban Romawi dan Yunani, yang merupakan induk dari peradaban materialisme. Ada peradaban India, Cina, Romawi, Yunani, Persia, semuanya mengelilingi jazirah Arab dari Utara dan Selatan. Agama Yahudi dan Nashrani juga hidup di jazirah Arab, yang melahirkan peradaban dan budaya paganisme.

Rasulullah Shallahu alaihi wa sallam membatasi para Shahabat, yang ingin membentuk sebuah generasi baru, yang akan menjadi suri tauladan, bagi seluruh umat manusia, sepanjang sejarahnya. Tidak mungkin Islam akan dapat menjadi sebuah peradaban baru, yang akan membangun kehidupan umat manusia dengan sebuah minhaj baru, yang akan membebaskan manusia dari segala bentuk perbudakan yang ada. Rasulullah Shallahu alaihi wa sallam hanya membatasi para Shahabat dengan Al-Qur’an, dan nilai-nilai kemuliaan yang ada dalam Al-Qur’an.

Rasulullah Shallahu dengan rencananya, khususnya dalam periode ‘formatifnya’ (pembentukan), tidak memberi kesempatan kepada para Shahabat sedikitpun mereguk nilai-nilai diluar Al-Qur’an. Al-Qur’an yang Beliau terima dari Malaikat Jibril disampaikan kepada para Shahabat, dan mereka mengamalkannya dengan penuh keimanan. Karena itu, generasi pertama yang merupakan bentukan Rasulullah Shallahu alaihi wa sallam, merupakan generasi paling mulia, generasi yang merupakan kelompok yang disebut dalam Al-Qur’an sebagai ‘asy-syabiquna awwalun’ (mereka yang pernah istijabah menerima Al-Qur’an), dan istijabah terhadap dakwah Rasulullah Shallahu alaihi wa sallam.

Maka, ketika itu, Rasulullah Shallahu alaihi wa sallam marah kepada Umar Ibn Khatthab, waktu itu melihat Umar di tangannya ada selembar buku Taurat. Beliau bersabda :

“Demi Allah, seandainya Nabi Musa hidup di kalangan kamu sekarang ini, ia pasti mengikuti saya”. (HR. al-Hafiz Abu Ya’ala, dari Hammad, dari as-Syabi dari Jabir)

Generasi para Shahabat yang mendapatkan tarbiyah langsung dari Rasulullah Shallahu alaihi wa sallam, sebuah generasi yang unik, dan betapa mereka menjadi penyebar Islam ke seluruh dunia. Mereka pula di saat bulan Ramadhan berperang menaklukkan kafir Qurays, dan hanya dalam jumlah 300 Shahabat, melawan seribu pasukan Qurays, dan berhasil menaklukan pusat peradaban jahiliyah, yaitu Makkah.

Fathul Makkah berlangung di saat bulan Ramadhan. Jihad para Shahabat yang pertama dalam sejarah yang agung itu, berlangsung di bulan Ramadhan. Mereka berhasil memberihkan kota Makkah, yang merupakan pusat perdaban jahiliyah, kemudian menjadi pusat peradaban tauhid, yang hanya menyembah Allah Azza Wa Jalla. Berhala-berhala yang menjadi pusat kesyirikan dibersihkan para Shahabat yang dipimpin Rasululllah.

Tidak ada lagi kehidupan syirik yang menjadi ciri kehidupan kaum jahiliyah di sekitar Ka’bah. Kemudian, semuanya menjadi penyembah tauhid, dan hanya semata-mata menyembah Rabbul Alamin.

Ini merupakan bentuk kemenangan dari para generasi Qur’ani, yang dikenal dengan para Shahabat, dan yang hidup dibawah naungan Al-Qur’an, mendasari kehidupan dengan Al-Qur’an, dan menjadikan Al-Qur’an sebagai minhajul hayah. Kemenangan generasi Shahabat melawan kaum jahiliyah Makkah, menandakan adanya era baru dalam kehidupan ummat manusia, yang sebelumnya dibelenggu peradaban jahiliyah yang menyembah berhala dan materialisme, dan telah membawa kesesatan bagi kehidupan manusia di Makkah telah berakhir.

Al-Qur’an telah menciptakan sebuah kehidupan baru bagi bangsa-bangsa di dunia. Inilah warisan dari generasi Qur’ani yang langsung dididik oleh Rasulullah Shallahu alaihi wa sallam, yang bangkit melawan berbagai bentuk penyimpangan, kesesatan dan kedurhakaan terhadap Allah Rabbul Alamin.

*Sumber artikel : eramuslim
========
Sekretariat : Jl Topaz V No 32 Perum Pondok Permata Suci (PPS ) Kec. Manyar Kab. Gresik. Email : yayasan_allail@yahoo.com / yayasanallail14@gmail.com Website : www.yayasanallail.com. Phone/SMS/WA. 085706408238 No. Rek BSM: 7074005475 BRI: 759601002831534 BCA Syari'ah: 0338989899 BNI: 0362314663 a/n Yayasan AL Lail


Minggu, 06 Januari 2019

Training Life Skill Santri Al-Lail

Diantara kegiatan santri Al-Lail adalah training life skill yang dilaksanakan setiap pekan sekali yaitu malam ahad yang meliputi training master of ceremony ( MC), khitobah, puisi, tilawah dan life skill lainnya.

Di pupuknya kegiatan tersebut dalam  rangka melatih kemampuan para santri untuk tampil di publik sebagai bekal kelak ketika berada dan berbaur di masyarakat dimanapun mereka berada.

Harapannya dengan kegiatan tersebut dapat melahirkan generasi muslim penerus perjuangan islam di masa yang akan datang.

Terimakasih kami sampaikan kepada  semua sahabat Al-Lail yang terus mendukung berkontribusi baik secara moril maupun materiil untuk program dan kegiatan pendidikan di pesantren tahfizhul Qur'an Al-Lail.

Semoga amal ibadah kita diterima oleh Allah subhanahu wa ta'ala. Amin

#Redaksi

Selasa, 01 Januari 2019

Al-Qur’an Adalah Petunjuk


Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Alif lam mim. Inilah Kitab yang tidak ada sedikit pun keraguan padanya. Petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. al-Baqarah: 1-2). 

Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Sesungguhnya al-Qur’an ini menunjukkan kepada urusan yang lurus dan memberikan kabar gembira bagi orang-orang yang beriman yang mengerjakan amal salih bahwasanya mereka akan mendapatkan pahala yang sangat besar.” (QS. al-Israa’: 9).

Oleh sebab itu merenungkan ayat-ayat al-Qur’an merupakan pintu gerbang hidayah bagi kaum yang beriman. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah, agar mereka merenungi ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai pikiran.” (QS. Shaad: 29).

Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Apakah mereka tidak merenungi al-Qur’an, ataukah pada hati mereka itu ada gembok-gemboknya?” (QS. Muhammad: 24). 

Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Apakah mereka tidak merenungi al-Qur’an, seandainya ia datang bukan dari sisi Allah pastilah mereka akan menemukan di dalamnya banyak sekali perselisihan.” (QS. an-Nisaa’: 82)

Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Maka barangsiapa yang mengikuti petunjuk-Ku, niscaya dia tidak akan sesat dan tidak pula celaka.” (QS. Thaha: 123).

Ibnu Abbas radhiyallahu’anhuma berkata, “Allah memberikan jaminan kepada siapa saja yang membaca al-Qur’an dan mengamalkan ajaran yang terkandung di dalamnya, bahwa dia tidak akan tersesat di dunia dan tidak celaka di akherat.” Kemudian beliau membaca ayat di atas (lihat Syarh al-Manzhumah al-Mimiyah karya Syaikh Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin al-Badr, hal. 49).

Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di rahimahullah menerangkan, bahwa maksud dari mengikuti petunjuk Allah ialah: Membenarkan berita yang datang dari-Nya,tidak menentangnya dengan segala bentuk syubhat/kerancuan pemahaman,mematuhi perintah,tidak melawan perintah itu dengan memperturutkan kemauan hawa nafsu (lihat Taisir al-Karim ar-Rahman, hal. 515 cet. Mu’assasah ar-Risalah)



Minggu, 30 Desember 2018

Mutiara Hadits : Membantu Sesama Muslim

"Barangsiapa yang membantu seorang muslim (dalam) suatu kesusahan di dunia maka Allah akan menolongnya dalam kesusahan pada hari kiamat, dan barangsiapa yang meringankan (beban) seorang muslim yang sedang kesulitan maka Allah akan meringankan (bebannya) di dunia dan akhirat” (HR Muslim).

Sabtu, 29 Desember 2018

Mendidik Peduli Lingkungan

Diantara model pendidikan yang ditanamkan kepada santri Al-Lail adalah menanamkan karakter Peduli Lingkungan sebagai bagian dari bentuk implementasi Iman.

Jum'at 28 Desember 2018 santri Al-Lail melakukan bakti sosial dengan memperbaiki jalan di pintu gerbang Tempat Pembuangan Sampah PPS. Harapannya dengan demikian dapat menumbuhkan kesadaran akan budaya tertib dan rapi pada kita semua khususnya dalam pembuangan sampah agar dibuang pada tempat yang sudah disedikan.

Kemudian pada Ahad 30 Desember 2018 santri Al-Lail juga melakukan bakti sosial dengan kembali memperbaiki jalan yang sudah mulai tampak terjadi kerusakan berupa amblesnya tatanan paving tepatnya di Jl. Topaz VIII PPS depan rumah nomor 6. Hal itu diinisiasi dan dilakukan sebagai bentuk antisipasi terjadinya kerusakan yang semakin parah.

Semoga dengan pola pendidikan demikian dapat menjadikan karakter pada diri santri sehingga sifat peka dan peduli terhadap lingkungan melekat dimanapun kelak mereka berada dan berkarya.

Jumat, 28 Desember 2018

Outbound Ceria Al-Lail

Pada 22-24 Desember 2018 Al-Lail Foundation menggelar kegiatan Outbound Ceria. Kegiatan dilaksanakan di Bumi Perkemahan Semen Gresik dengan mengusung tema "Meraih Berkah dengan Memperkuat Ukhuwah". Kegiatan ini dilaksanakan guna melatih kemandirian santri.

Outbound merupakan bentuk pembelajaran perilaku kepemimpinan dan manajemen di alam terbuka dengan pendekatan yang unik dan sederhana tetapi efektif karena pelatihan ini tidak sarat dengan teori-teori melainkan langsung diterapkan pada elemen-elemen yang mendasar yang bersifat sehari-hari, seperti saling percaya, saling memperhatikan serta sikap proaktif dan komunikatif. 

Dimensi alam sebagai objek pendidikan bisa menjadi laboratorium sesungguhnya dan tempat bermain yang mengasyikan dengan berbagai metodenya.


Jumat, 21 Desember 2018

Dongeng Adalah Nasihat


Ahad, 9 Desember 2018 Al-Lail Foundation menyelenggarakan kegiatan ekstra yaitu kegiatan mendengarkan nasehat dengan dongeng. Hadir sebagai pendongeng pada kegiatan tersebut Kak Putri dari Kelas Inspirasi Gresik. Harapannya dengan kegiatan tersebut dapat menambah motivasi para santri Al-Lail dalam belajar dan menggali potensi diri.
Diantara cara memberikan nasihat kepada anak sehingga anak mau mendengarkan dan menurut apa yang dikatakan orangtua, guru, maupun teman adalah dengan dongeng. Mendongeng merupakan rangkaian  tutur kata yang dijadikan sarana alat bantu komunikasi, dengan muatan nilai-nilai positif, dan pesan moral  yang akan lekat terpatri dalam ingatan anak.
Mendongeng termasuk aktivitas berkomunikasi yang mudah dan murah. Mendongeng pada anak bisa dilakukan kapan dan di mana saja, Dongeng membuat nyaman, tenang sekaligus senang untuk membantu anak dalam berimajinasi. Dengan mendengarkan dongeng, anak tidak merasa dinasihati oleh orangtua maupun guru.