Sekretariat : Jl Topaz V No 32 Perum Pondok Permata Suci (PPS ) Kec. Manyar Kab. Gresik

Email : yayasan_allail@yahoo.com / yayasanallail14@gmail.com Website : www.yayasanallail.com. Phone/SMS/WA. 085706408238 No. Rek BSM: 7074005475 BRI: 759601002831534 BCA Syari'ah: 0338989899 BNI: 0362314663 a/n Yayasan AL Lail

Sekretariat : Jl Topaz V No 32 Perum Pondok Permata Suci (PPS ) Kec. Manyar Kab. Gresik

Email : yayasan_allail@yahoo.com / yayasanallail14@gmail.com Website : www.yayasanallail.com. Phone/SMS/WA. 085706408238 No. Rek BSM: 7074005475 BRI: 759601002831534 BCA Syari'ah: 0338989899 BNI: 0362314663 a/n Yayasan AL Lail

Sekretariat : Jl Topaz V No 32 Perum Pondok Permata Suci (PPS ) Kec. Manyar Kab. Gresik

Email : yayasan_allail@yahoo.com / yayasanallail14@gmail.com Website : www.yayasanallail.com. Phone/SMS/WA. 085706408238 No. Rek BSM: 7074005475 BRI: 759601002831534 BCA Syari'ah: 0338989899 BNI: 0362314663 a/n Yayasan AL Lail

Sekretariat : Jl Topaz V No 32 Perum Pondok Permata Suci (PPS ) Kec. Manyar Kab. Gresik

Email : yayasan_allail@yahoo.com / yayasanallail14@gmail.com Website : www.yayasanallail.com. Phone/SMS/WA. 085706408238 No. Rek BSM: 7074005475 BRI: 759601002831534 BCA Syari'ah: 0338989899 BNI: 0362314663 a/n Yayasan AL Lail

Jumat, 22 Maret 2019

SMAN 1 Gresik Kunjungi Pesantren Tahfizhul Qur'an Al-Lail

SMAN 1 Gresik berkunjung ke Pesantren Tahfizhul Qur'an Al-Lail (22/03/2019). Kunjungan tersebut sebagai bentuk silaturrahim edukasi dengan santri Al-Lail menjelang Ujian Nasional.

Pada kesempatan itu kunjungan dikemas dengan berbagai macam kegiatan, mulai dari kegiatan mengaji, hingga do'a bersama menjelang UN.

Para murid SMAN 1 Gresik mengajak santri Al-Lail untuk mendoakan agar ujian yang akan ditempuhnya diberi kemudahan.

Tidak hanya itu, murid SMAN 1 Gresik di akhir kegiatannya juga mengajak adik-adik santri Al-Lail untuk bermain game edukasi. 

Dan sebagai penutup dari kegiatannya diakhiri dengan kegiatan ramah-tamah.

Rabu, 13 Maret 2019

Open Donasi Sahabat Al-Lail



Assalamu’alaikum War. Wab.

Alhamdulillah berkat rahmat Allah SWT. Kita masih diberi  kekuatan untuk  mengemban amanah yang diberikan-Nya. Shalawat serta salam mudah-mudahan tetap tercurah kepada Nabi besar Muhammad SAW. Beserta para Sahabat serta pengikutnya yang setia.

Bapak/Ibu yang terhormat, jutaan manusia penduduk Indonesia yang berada dalam garis kemiskinan. Pemandangan nyata di kota besar terlihat dengan banyaknya anak terlantar di jalanan serta putus sekolah. Di pedesaan mengalami yang sama, minimnya sarana  serta rendahnya human development index manusia Indonesia, sumber daya manusia Indonesia yang melimpah seolah tak berdaya menghadapi keterbatasan yang ada.
Kepedulian adalah wujud nyata untuk memutus persoalan yang terus menderita. Setidaknya kemiskinan dan anak putus sekolah dapat di kurangi dengan sinergi dan kebersamaan, membantu saudara kita yang tidak berdaya untuk bangkit menuju kepada kualitas hidup yang lebih baik agar hidup lebih mulia dan bermartabat.
Zakat, infak dan sedekah adalah solusi riil untuk mewujudkan kepeduliaan terhadap kemiskinan dan anak putus sekolah, maka, saatnya zakat, infak dan sedekah anda membantu mewujudkan cita-cita dan harapan mereka, mengukir senyum dan kebahagiaan  mereka.
Oleh karena itu, kami mengajak dengan memohon kepada Bapak/Ibu untuk menyalurkan zakat, infak dan sadaqah anda dengan menjadi Donatur rutin (bulanan) ke Pondok Tahfizhul Qur’an Yatim, Piatu Terlantar, Muallaf dan Duafa’ Yayasan Al-Lail demi terpenuhinya kebutuhan pendidikan dan kebutuhan sehari-hari mereka khususnya yang mukim di asrama. Semoga amal sholeh kita di terima di sisi-Nya. Amin.
Wassalamu’alaikum War.Wab. 
Jemput Donasi : 0852 2526 4224

=======
Yayasan Al-Lail, Sekretariat : 
Jl Topaz V No 32 Perum Pondok Permata Suci (PPS ) Kec. Manyar Kab. Gresik. 
Email : yayasan_allail@yahoo.com / yayasanallail14@gmail.com 
Website : www.yayasanallail.com. 
Phone/SMS/WA. 085706408238 
No. Rek a/n Yayasan AL Lail
BSM : 7074005475 
BRI : 759601002831534 
BCA Syari'ah: 0338989899 
BNI : 0362314663 

Jangan Rusak Jiwa Anak Kita!

Oleh : Kartika Trimarti*
Anak yang membanggakan pasti merupakan idaman setiap orangtua. Merupakan hal yang wajar, bila anak yang berprestasi atau memiliki kelebihan kemudian menjadi buah bibir orangtuanya. Hal ini bisa kita lihat manakala para orangtua berkumpul, pasti ada saja topik yang membahas kebanggaan mereka terhadap anak.
Meskipun membanggakan anak awalnya merupakan tanda syukur kita terhadap karunia Allah, akan tetapi ada beberapa dampak yang harus kita waspadai manakala berbicara tentang hal ini.
Dampak pertama membanggakan adalah membandingkan. Manakala seseorang membanggakan sesuatu, ia akan cenderung mengganggap remeh hal lain yang menjadi pembandingnya. Dalam hal ini, orangtua yang membanggakan kelebihan anaknya pasti akan membandingkan kelebihan sang anak terhadap anak orang lain yang menjadi lawan bicaranya, secara langsung ataupun tidak. Kondisi membandingkan ini pasti akan menumbuhkan ketidaknyamanan dalam hati lawan bicara. Akibatnya, boleh jadi orangtua yang merasa dibandingkan tersebut “ngedumel” dalam hati atau malah balik menyerang dengan sanggahan dan berakhir dengan pertengkaran.
Dampak lanjutan dari membandingkan ini adalah perasaan rendah diri orangtua yang berada “di pihak yang kalah”. Mereka akan merasa bahwa anak mereka bukanlah orang-orang yang istimewa. Akibatnya, bukan hanya orangtua yang tertekan, anak-anak pun akan terkena dampak. Orangtua akan memaksa anaknya untuk mencapai keberhasilan yang sama.
Misalkan saja, orangtua yang memiliki anak berusia di atas satu tahun tetapi belum dapat berjalan cenderung memaksa anaknya untuk segera berjalan, meski hanya dengan mengeluh di depan anaknya, “Koq, kamu belum bisa jalan sih, Nak?”
Efeknya tentu dapat dirasakan pada harga diri anak. Alih-alih orangtua bertugas sebagai pembangun harga diri dan tempat berlindung anak, orangtua yang telah berada di bawah tekanan pembandingan justru akan melemahkan harga diri anak.
Bila hal ini tidak segera disadari dan diperbaiki oleh orangtua, anaklah yang menjadi korban dari sebuah ambisi kebanggaan.
Melihat buruknya dampak yang diakibatkan dari berbangga-bangga ini, tentu sebaiknya kita meninggalkan sikap ini manakala tengah berbicara tentang anak. Seorang ulama bahkan pernah berpesan untuk menghindari membangga-banggakan anak ini ketika kita berada dalam sebuah forum silaturrahim.
Karena, selain dapat berakibat buruk bagi anak, sikap ini juga dapat merusak persaudaraan.
Jangan berlebihan
Kita masih mengingat akan penyebab turunnya ayat 103 surat Ali Imran yaitu sikap bangga-membanggakan antar kabilah yang akhirnya nyaris memicu perkelahian antar sahabat Anshar. Belajar dari peristiwa ini, alangkah baiknya jika kita menghindari sikap bangga-membanggakan yang Allah firmankan dalam surat At-Takatsur ayat 1: أَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ
“Bermegah-megahan telah melalaikan kamu.”
Selain dapat merusak kehangatan persaudaraan, sikap berbangga ini akan membuat seseorang enggan datang bersilaturrahim atau malah menghindar untuk berbicara. Semua ini tentu akan melalaikan kita untuk menyambung tali silaturrahim dan saling tolong-menolong.
Padahal, telah sampai kepada kita ayat-ayat-Nya dan sunnah Rasul-Nya yang menyuruh kita untuk saling bahu-membahu dalam kebaikan dan mencegah dari perbuatan yang dimurkai Allah.
Tak sedikit di sekitar kita, ada orangtua membangga-banggakan salah satu anaknya dan di saat yang sama menjatuhkan anaknya yang lain.
“Tiru tuh, kakakmu, bukan seperti kamu,” begitu salah satu orangtua yang pernah saya dengar membanding-bandingkan anaknya.
Padahal, dengan membanding-bandingkan, akan membuat kerusakan pada jiwa masing-masing anak. Bagi yang dibanggakan ia berpotensi menjadi sombong, sementara bagi yang dijatuhkan, ia berpotensi menjadi rendah diri. Kedua-duanya akan berpotensi memiliki kepribadian buruk di kemudian hari.
Islam melarang sikap berlebihan. Dalam al_Quran Allah Ta’ala berfirman:
“Wahai Ahli Kitab, janganlah kamu melampaui batas dalam agamamu dan janganlah kamu mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar…” [An-Nisaa’: 171]
Sementara Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri telah bersabda:
“Permudahlah dan janganlah kalian mempersulit. Berikanlah berita gembira, dan janganlah kalian menakut-nakuti”
Orangtua harusnya besikap adil kepada semua anaknya. Tak perlu menekankan bahwa “anak harus bisa”. Karena setiap anak memiliki potensi berbeda. Alangkah indahnya, jika salah satu potensi dan kelebihan di antara anaknya menjadi pemacu spirit bagi yang lainnya.
Alangkah indahnya, bila dalam setiap bertemunya orangtua dengan anak, yang hadir hanyalah kata-kata positif yang dapat mendorong dan membantu dan memberi semangat untuk menjadi lebih baik.
Begitupun bila anak kita memiliki kelebihan, menjadi lebih indah, bila kelebihan tersebut dapat menjadi solusi bagi permasalahan saudara kita. Kelebihan tersebut dapat melengkapi kekurangan yang dimiliki saudaranya.
Apalagi bila kemudian menjadi kesyukuran dan kebanggaan bersama. Tentu ini akan membuat persaudaraan semakin rekat dan semangat untuk berlomba-lomba menjadi yang terbaik dalam kebaikan semakin subur.
Jika rasa cinta dan kasih sayang orangtua kurang tercurahkan pada diri anak-anak, tak mustahil ia hanya akan tumbuh sebagai pribadi berprilaku aneh di tengah komunitasnya. Sebaliknya, jika orangtua memberi rasa lebih cinta dan kasih sayang, ia akan tumbuh menjadi pribadi barik di tengah kawan-kawannya. Ia akan menjadi percaya diri dan memiliki kepekaan sosial. Karena ituitu, kewajiban bagi orang tuauntuk memenuhi kebutuhan cinta dan kasih sayang pada mereka.
Perkataan Ibnu Khaldun dalam Kitab Al Muqaddimah bisa menjadi renungan kita bersama;
“Barangsiapa yang pola asuhannya dengan kekerasan dan otoriter, baik (ia) pelajar atau budak ataupun pelayan, (maka) kekerasaan itu akan mendominasi jiwanya. Jiwanya akan merasa sempit dalam menghadapinya. Ketekunannya akan sirna, dan menyeretnya menuju kemalasan, dusta dan tindakan keji. Yakni menampilkan diri dengan gambar yang berbeda dengan hatinya, lantaran takut ayunan tangan yang akan mengasarinya”.*
*Kartika Trimarti, penulis lepas dan ibu rumah tangga tinggal di Bekasi. Sumber hidayatullah.com

=======
Yayasan Al-Lail, Sekretariat : Jl Topaz V No 32 Perum Pondok Permata Suci (PPS ) Kec. Manyar Kab. Gresik. Email : yayasan_allail@yahoo.com / yayasanallail14@gmail.com Website : www.yayasanallail.com. Phone/SMS/WA. 085706408238 No. Rek BSM: 7074005475 BRI: 759601002831534 BCA Syari'ah: 0338989899 BNI: 0362314663 a/n Yayasan AL Lail

Senin, 25 Februari 2019

Nasehat Cinta untuk Ayah dan Bunda


Yang pertama kali dilihat oleh seorang bayi di dunia ini adalah rumahnya dan karib-kerabatnya. Terlukis jelas di benaknya, refleksi pertama dari kehidupan yang ia lihat pada orang tua dan cara mereka mencari nafkah. Maka terbentuklah pribadinya yang saat itu masih menerima segala sesuatu dan mudah terpengaruh oleh apapun dalam bentukan lingkungan ini.

Imam al-Ghazali mengatakan : “ Anak adalah amanah di tangan kedua orang tuanya. Hatinya yang suci adalah mutiara yang masih mentah, belum dipahat maupun dibentuk. Mutiara ini dapat dipahat dalam bentuk apapun, mudah condong kepada segala sesuatu. Apabila dibiasakan dan diajarikan kebaikan, maka dia akan tumbuh dalam kebaikan itu. Dampaknya kedua orang tuanya akan hidup berbahagia di dunia dan akhirat. Semua orang dapat menjadi guru dan pendidiknya. Namun apabila dibiasakan dengan keburukan dan dilalaikan seperti dilalaikannya hewan pasti si anak akan celaka dan binasa. Dosanya akan melilit leher orang yang seharusnya bertanggung jawab atasnya dan menjadi walinya.”

Seorang anak tumbuh dewasa diantara kita sesuai dengan apa yang dibiasakan oleh kedua orang tuanya. Seorang pemuda tidaklah beragama dengan begitu saja, kerabatnyalah yang membiasakannya beragama. 

Oleh karenaya bapak dan ibu adalah unsur penting. Apabila rumah memiliki semua pengaruh ini pada anak, maka sudah seharusnya merealisasikan tujuan yang sebenarnya, yaitu anak harus diliputi oleh segala sesuatu yang dapat menumbuhkan ruh keagamaan dan kebaikan dalam dirinya.

Rasulullah SAW. bersabda : “ Setiap anak dilahirkan di atas fitrahnya. Kedua orang tuanyalah yang menjadikan Yahudi, Majusi, atau Nasrani.”

*Tulisan ini disalin dan diolah dari buku “Prophetic Parenting”
=======
Yayasan Al-Lail, Sekretariat : Jl Topaz V No 32 Perum Pondok Permata Suci (PPS ) Kec. Manyar Kab. Gresik. Email : yayasan_allail@yahoo.com / yayasanallail14@gmail.com Website : www.yayasanallail.com. Phone/SMS/WA. 085706408238 No. Rek BSM: 7074005475 BRI: 759601002831534 BCA Syari'ah: 0338989899 BNI: 0362314663 a/n Yayasan AL Lail

Senin, 11 Februari 2019

Usia Bukan Pembatas Untuk Belajar



By. Redaksi
Ketika kita berada di bangku Sekolah, mungkin kita sering mendengar motivasi dari guru kita bahwa “belajarlah sampai kita mati”. Motivasi tersebut merupakan penjelasan tentang urgensi belajar. Ilmu yang harus kita pelajari sangatlah banyak, bahkan saking banyaknya umur kitapun tidak cukup untuk mencarinya. Karenanya rugi kalau kita tidak memanfaatkan umur kita untuk senantiasa terus belajar. Tentu tidak semuanya harus melalui jalur formal, karena hal itu tidak semuanya bisa kita jangkau dengan kondisi kita yang beragam.
Tradisi cinta ilmu sejatinya sudah menjadi ciri khas seorang Muslim. Hal demikian sudah dicontohkan oleh para ulama’ terdahulu yang tekun dalam mencari ilmu hingga melahirkan karya-karya yang menjadi pedoman hingga sekarang. Maka tidak heran jika suatu hari Imam Ahmad rahimahullah pernah ditanya ketika rambut beliau sudah tampak memutih, “Sampai kapan Engkau masih bersama dengan wadah tinta?” Maksudnya, orang tersebut heran ketika Imam Ahmad rahimahullah tetap bersama dengan alat-alat untuk mencari ilmu seperti kertas dan wadah tinta, padahal usia beliau tidak lagi muda. Sehingga dikatakan dalam sebuah kalimat yang terkenal, “Bersama wadah tinta sampai ke liang kubur”.
Mungkin kisah itu sudah menjadi catatan klasik, tapi makna yang tersirat sangatlah menarik dan mengandug makna yang sangat energik. Sehingga buah karyanya menjadi pedoman hidup para generasi setelahnya. Dan tentu yang demikian juga perlu ditiru jejaknya guna melahirkan generasi yang setara walaupun tidak sama dan tidak akan pernah sama.
Dalam konteks saat ini mungkin juga kita bisa petik ilmu “semangat” dari para pemburu ilmu. Yang teranyar misalnya potret kakek berusia 94 tahun bernama David Bottomley yang penulis temukan di Republika.co.id edisi 06 Februari 2019. David Bottomley menjalani  studi S-3 secara paruh waktu selama tujuh tahun dan kini tercatat sebagai wisudawan tertua di Australia yang berhasil menyandang gelar PhD. Dan Pada Rabu 06 Februari 2019, dia pun lulus dari Universitas Curtin di Perth dalam bidang metode mengajar di ruang kelas.
Maka kisah-kisah tersebut jangan hanya kita jadikan sebagai kisah populer semata, akan tetapi kita jadikan sebagai kisah fakta yang tersirat hikmah di dalamnya, terlebih oleh para generasi penerus bangsa calon pewaris perjuangan dalam menata dan mengelola bangsa dan negara dengan segudang problem yang ada di dalamnya.
Diam bukanlah sebuah solusi walaupun diam belum tentu sunyi. Bergerakpun juga bukanlah solusi jika gerakan kita tidak tentu arah dan tujuan yang berarti. Maka memadukan keduanya dengan ilmu adalah energi yang akan dapat merubah segalanya. Hal demikian sudah Rasulullah wasiatkan sebagaimana termaktub dalam haditsnya :
”Barang siapa yang menghendaki kehidupan dunia maka wajib baginya memiliki ilmu, dan barang siapa yang menghendaki kehidupan Akhirat, maka wajib baginya memiliki ilmu, dan barang siapa menghendaki keduanya maka wajib baginya memiliki ilmu”. (HR. Turmudzi).
Perkembangan informasi dan teknologi serta pesatnya media yang menghiasinya tentu menjadi wadah buat para generasi untuk berkreasi, mengekspresikan dan mengeksplorasikan gagasan-gagasan cemerlang menuju masa depan yang gemilang. Maka hal ini menjadi peluang besar khususnya anak muda untuk terus belajar mengais ilmu sebanyak-banyaknya sampai pada titik tiga, yang artinya dalam ilmu matematika adalah tidak terhingga, jangan hanya dijadikan sebagai alat untuk publikasi diri tanpa nilai yang berarti. Merasa sulit sudah pasti, tapi lebih sulit lagi jika kita tidak pernah memulai.
Semoga catatan singkat ini dapat menambah motivasi bagi para generasi, guna lahir para generasi yang hebat di masa yang akan datang.[]
*Redaksi
======
Yayasan Al-Lail, Sekretariat : Jl Topaz V No 32 Perum Pondok Permata Suci (PPS ) Kec. Manyar Kab. Gresik. Email : yayasan_allail@yahoo.com / yayasanallail14@gmail.com Website : www.yayasanallail.com. Phone/SMS/WA. 085706408238 No. Rek BSM: 7074005475 BRI: 759601002831534 BCA Syari'ah: 0338989899 BNI: 0362314663 a/n Yayasan AL Lail

Selasa, 22 Januari 2019

Membentuk Generasi Qur'ani

Kaum Mukminin seharusnya merenungkan dalam-dalam, terutama mereka yang terlibat dalam Gerakan Islam (Harakah Islamiyah) atau yang akitve dibidang dakwah. Mereka patut merenungkan, betapa Al-Qur’an mempunyai pengaruh yang sangat menentukan terhadap masa depan dakwah. Sebuah methode (minhaj) yang diberikan oleh Allah Azza wa Jalla secara sempurna, dan telah menuntun kehidupan manusia, sampai hari ini.

Dakwah Rasulullah Shallahu alaihi wa sallam, pernah menghasilkan generasi yang tidak pernah dikenal sebelumnya, yaitu generasi para Shahabat. Generasi yang memiliki ciri atau karakter tersendiri, dan mempunyai pengaruh yang luar biasa dalam sejarah Islam. Nampaknya dakwah ini tidak pernah lagi menghasilan sebuah generasi seperti yang pernah dihasilkan generasi para Shahabat.

Memang sepanjang sejarah selalu ada orang-orang besar, yang menghiasi lembaran-lembaran sejarah, tetapi mereka tidak akan pernah dapat menyamai generasi para Shahabat. Tidak pernah terjadi sepanjang sejarah, di mana berkumpul sedemikian banyaknya, pada suatu tempat dan periode, sebagaimana terjadi pada periode dakwah yang pertama, yang dilaksanakan oleh Rasulullah Shallahu alaihi wa sallam.

Allah Azza Wa Jalla telah menjamin untuk memerlihara ketinggian dakwah ini, dan mengajarkan bahwa dakwah ini terus berjalan dengan tidak adanya Rasulullah Shallahu alaihi wa sallam. Semua ini tak lain merupakan buah dari dakwah Beliau Shallahu alaihi wa sallam, yang melaksanakan dakwah selama 23 tahun, lalu Rasulullah Shallahu alaihi wa sallam dijemput-Nya, dikekalkan-Nya agama ini sampai akhir zaman. Dakwah terus berjalan dengan penuh geloranya, karena telah adanya Al-Qur’an dan As-Sunnah, yang merupakan warisan kekal, sepanjang zaman dans sejarah manusia.

Mengapa generasi pertama dalam dakwah ini, mempunyai karakter yang khas, dan tidak akan pernah terjadi lagi sesudahnya, karena mereka berinteraksi langsung dengan Rasulullah Shallahu alaihi wa sallam, dan menerima wahyu (Al-Qur’an), dan mengamalkannya. Mereka mengambil Al-Qur’an sebagai sumber bagi kehidupannya. Tidak mengambil sumber dari sumber-submer yang bathil buatan manusia. Seperti digambarkan Rasulullah Shallahu alaihi wa sallam :

“Sewaktu Aisyah RA, ditanya tentang budi-pekerti Rasul Shallahu alaihi wa sallam, ia berkata : “Budi pekertinya adalah Al-Qur’an”.

Al-Qur’an menjadi satu-satunya sumber bagi kehidupan mereka, menjadi ukuran, dan dan dasar berpikir mereka. Ketika itu, bukan manusia tidak memiliki peradaban di bidang ilmu pengetahuan dan peradaban. Bukan. Justru saat itu peradaban Romawi, ilmu pengetahuan, dan hukum Romawi, yang sekarang masih menjadi ciri atau ideologi Eropa.

Bahkan terdapat pengaruh peradaban Yunani, yang begitu kuat, di dalam kehidupan, sumber peradaban materi, yang sekarang terus mengalami dekadensi, yang menuju kehancurannya. Mengapa generasi pertama dakwah ini, membatasi diri, dan tidak mau menerima berbagai peradaban dan pemikiran yang ada waktu, dan sudah sangat maju? Rasulullah Shallahu alaihi wa sallam, ingin membentuk sebuah generasi baru, yang dikenal dengan “Generasi Qur’ani”. Mereka yang benar-benar hidup dibawah naungan Al-Qur’an. Tidak hidup dibawah pengaruh atau terkontaminasi dengan peradaban Romawi dan Yunani, yang merupakan induk dari peradaban materialisme. Ada peradaban India, Cina, Romawi, Yunani, Persia, semuanya mengelilingi jazirah Arab dari Utara dan Selatan. Agama Yahudi dan Nashrani juga hidup di jazirah Arab, yang melahirkan peradaban dan budaya paganisme.

Rasulullah Shallahu alaihi wa sallam membatasi para Shahabat, yang ingin membentuk sebuah generasi baru, yang akan menjadi suri tauladan, bagi seluruh umat manusia, sepanjang sejarahnya. Tidak mungkin Islam akan dapat menjadi sebuah peradaban baru, yang akan membangun kehidupan umat manusia dengan sebuah minhaj baru, yang akan membebaskan manusia dari segala bentuk perbudakan yang ada. Rasulullah Shallahu alaihi wa sallam hanya membatasi para Shahabat dengan Al-Qur’an, dan nilai-nilai kemuliaan yang ada dalam Al-Qur’an.

Rasulullah Shallahu dengan rencananya, khususnya dalam periode ‘formatifnya’ (pembentukan), tidak memberi kesempatan kepada para Shahabat sedikitpun mereguk nilai-nilai diluar Al-Qur’an. Al-Qur’an yang Beliau terima dari Malaikat Jibril disampaikan kepada para Shahabat, dan mereka mengamalkannya dengan penuh keimanan. Karena itu, generasi pertama yang merupakan bentukan Rasulullah Shallahu alaihi wa sallam, merupakan generasi paling mulia, generasi yang merupakan kelompok yang disebut dalam Al-Qur’an sebagai ‘asy-syabiquna awwalun’ (mereka yang pernah istijabah menerima Al-Qur’an), dan istijabah terhadap dakwah Rasulullah Shallahu alaihi wa sallam.

Maka, ketika itu, Rasulullah Shallahu alaihi wa sallam marah kepada Umar Ibn Khatthab, waktu itu melihat Umar di tangannya ada selembar buku Taurat. Beliau bersabda :

“Demi Allah, seandainya Nabi Musa hidup di kalangan kamu sekarang ini, ia pasti mengikuti saya”. (HR. al-Hafiz Abu Ya’ala, dari Hammad, dari as-Syabi dari Jabir)

Generasi para Shahabat yang mendapatkan tarbiyah langsung dari Rasulullah Shallahu alaihi wa sallam, sebuah generasi yang unik, dan betapa mereka menjadi penyebar Islam ke seluruh dunia. Mereka pula di saat bulan Ramadhan berperang menaklukkan kafir Qurays, dan hanya dalam jumlah 300 Shahabat, melawan seribu pasukan Qurays, dan berhasil menaklukan pusat peradaban jahiliyah, yaitu Makkah.

Fathul Makkah berlangung di saat bulan Ramadhan. Jihad para Shahabat yang pertama dalam sejarah yang agung itu, berlangsung di bulan Ramadhan. Mereka berhasil memberihkan kota Makkah, yang merupakan pusat perdaban jahiliyah, kemudian menjadi pusat peradaban tauhid, yang hanya menyembah Allah Azza Wa Jalla. Berhala-berhala yang menjadi pusat kesyirikan dibersihkan para Shahabat yang dipimpin Rasululllah.

Tidak ada lagi kehidupan syirik yang menjadi ciri kehidupan kaum jahiliyah di sekitar Ka’bah. Kemudian, semuanya menjadi penyembah tauhid, dan hanya semata-mata menyembah Rabbul Alamin.

Ini merupakan bentuk kemenangan dari para generasi Qur’ani, yang dikenal dengan para Shahabat, dan yang hidup dibawah naungan Al-Qur’an, mendasari kehidupan dengan Al-Qur’an, dan menjadikan Al-Qur’an sebagai minhajul hayah. Kemenangan generasi Shahabat melawan kaum jahiliyah Makkah, menandakan adanya era baru dalam kehidupan ummat manusia, yang sebelumnya dibelenggu peradaban jahiliyah yang menyembah berhala dan materialisme, dan telah membawa kesesatan bagi kehidupan manusia di Makkah telah berakhir.

Al-Qur’an telah menciptakan sebuah kehidupan baru bagi bangsa-bangsa di dunia. Inilah warisan dari generasi Qur’ani yang langsung dididik oleh Rasulullah Shallahu alaihi wa sallam, yang bangkit melawan berbagai bentuk penyimpangan, kesesatan dan kedurhakaan terhadap Allah Rabbul Alamin.

*Sumber artikel : eramuslim
========
Sekretariat : Jl Topaz V No 32 Perum Pondok Permata Suci (PPS ) Kec. Manyar Kab. Gresik. Email : yayasan_allail@yahoo.com / yayasanallail14@gmail.com Website : www.yayasanallail.com. Phone/SMS/WA. 085706408238 No. Rek BSM: 7074005475 BRI: 759601002831534 BCA Syari'ah: 0338989899 BNI: 0362314663 a/n Yayasan AL Lail


Minggu, 06 Januari 2019

Training Life Skill Santri Al-Lail

Diantara kegiatan santri Al-Lail adalah training life skill yang dilaksanakan setiap pekan sekali yaitu malam ahad yang meliputi training master of ceremony ( MC), khitobah, puisi, tilawah dan life skill lainnya.

Di pupuknya kegiatan tersebut dalam  rangka melatih kemampuan para santri untuk tampil di publik sebagai bekal kelak ketika berada dan berbaur di masyarakat dimanapun mereka berada.

Harapannya dengan kegiatan tersebut dapat melahirkan generasi muslim penerus perjuangan islam di masa yang akan datang.

Terimakasih kami sampaikan kepada  semua sahabat Al-Lail yang terus mendukung berkontribusi baik secara moril maupun materiil untuk program dan kegiatan pendidikan di pesantren tahfizhul Qur'an Al-Lail.

Semoga amal ibadah kita diterima oleh Allah subhanahu wa ta'ala. Amin

#Redaksi

Selasa, 01 Januari 2019

Al-Qur’an Adalah Petunjuk


Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Alif lam mim. Inilah Kitab yang tidak ada sedikit pun keraguan padanya. Petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. al-Baqarah: 1-2). 

Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Sesungguhnya al-Qur’an ini menunjukkan kepada urusan yang lurus dan memberikan kabar gembira bagi orang-orang yang beriman yang mengerjakan amal salih bahwasanya mereka akan mendapatkan pahala yang sangat besar.” (QS. al-Israa’: 9).

Oleh sebab itu merenungkan ayat-ayat al-Qur’an merupakan pintu gerbang hidayah bagi kaum yang beriman. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah, agar mereka merenungi ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai pikiran.” (QS. Shaad: 29).

Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Apakah mereka tidak merenungi al-Qur’an, ataukah pada hati mereka itu ada gembok-gemboknya?” (QS. Muhammad: 24). 

Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Apakah mereka tidak merenungi al-Qur’an, seandainya ia datang bukan dari sisi Allah pastilah mereka akan menemukan di dalamnya banyak sekali perselisihan.” (QS. an-Nisaa’: 82)

Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Maka barangsiapa yang mengikuti petunjuk-Ku, niscaya dia tidak akan sesat dan tidak pula celaka.” (QS. Thaha: 123).

Ibnu Abbas radhiyallahu’anhuma berkata, “Allah memberikan jaminan kepada siapa saja yang membaca al-Qur’an dan mengamalkan ajaran yang terkandung di dalamnya, bahwa dia tidak akan tersesat di dunia dan tidak celaka di akherat.” Kemudian beliau membaca ayat di atas (lihat Syarh al-Manzhumah al-Mimiyah karya Syaikh Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin al-Badr, hal. 49).

Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di rahimahullah menerangkan, bahwa maksud dari mengikuti petunjuk Allah ialah: Membenarkan berita yang datang dari-Nya,tidak menentangnya dengan segala bentuk syubhat/kerancuan pemahaman,mematuhi perintah,tidak melawan perintah itu dengan memperturutkan kemauan hawa nafsu (lihat Taisir al-Karim ar-Rahman, hal. 515 cet. Mu’assasah ar-Risalah)