Rabu, 09 Desember 2015

HIKMAH DAN KEUTAMAAN WAKAF



HIKMAH DAN KEUTAMAAN WAKAF
Dari Abu Hurairah Radiyallahu anhu, "Sesungguhnya Nabi Shallallaahu 'Alaihi Wasallam bersabda, Apabila seseorang meninggal dunia, terputuslah amalnya kecuali tiga hal: sedekah jariyah (wakaf) [4], ilmu yang bermanfaat, dan anak sholeh yang mendoakan ibu bapaknya." [5]
Dari hadits tersebut jelaslah bahwa wakaf bukan hanya seperti sedekah biasa, tetapi lebih besar imbalan dan manfaatnya terhadap diri yang berwakaf. Karena imbalan wakaf itu terus menerus mengalir selama barang wakaf itu masih berguna. Wakaf bagi masyarakat, dapat menjadi washilah (jalan) untuk kemajuan ummat yang seluas-luasnya. Bahkan, ummat Islam terdahulu dapat berkembang dan maju dikarenakan dari hasil wakaf sebagian kaum muslimin. Berkembangnya agama Islam seperti yang kita lihat sekarang ini diantaranya adalah karena hasil wakaf dari kaum muslimin. Bangunan-bangunan masjid, mushalla (surau), madrasah, pondok pesantren, panti asuhan dan sebagainya hampir semuanya berdiri diatas tanah wakaf. Bahkan banyak pula lembaga-lembaga pendidikan Islam, majelis taklim, madrasah, dan pondok-pondok pesantren yang kegiatan operasionalnya dibiayai dari hasil tanah wakaf.
Karena itulah, maka Islam sangat menganjurkan bagi orang-orang yang kaya agar mau mewariskan sebagian harta atau tanahnya guna kepentingan Islam. Hal ini dilakukan atas persetujuan bersama serta atas pertimbangan kemaslahatan ummat dan dana yang lebih bermanfaat bagi perkembangan ummat. Dengan demikian, manfaat wakaf tidak hanya dapat dirasakan oleh ummat Islam saat ini, akan tetapi dapat juga dirasakan manfaatnya bagi generasi ummat Islam pada masa-masa yang akan datang.
Adapun hikmah wakaf adalah sebagai berikut:
Melaksanakan perintah Allah 'Azza Wa Jalla untuk selalu berbuat baik. Firman Allah 'Azza Wa Jalla: "Hai orang-orang yang beriman, ruku'lah kamu, sujudlah kamu, sembahlah Tuhanmu dan berbuatlah kebajikan, supaya kamu mendapat kemenangan." (QS Al Hajj: 77)
Memanfaatkan harta atau barang tempo yang tidak terbatas.
Kepentingan diri sendiri sebagai pahala sedekah jariah dan untuk kepentingan masyarakat Islam sebagai upaya dan tanggung jawab kaum muslimin atas kaum muslimin lainnya. Tentang hal ini, Rasulullah Shallallaahu 'Alaihi Wasallam bersabda dalam salah satu haditsnya:
“…Barangsiapa yang peduli terhadap kebutuhan saudaranya, maka Allah selalu peduli terhadap kebutuhannya.. ” [6]
Mengutamakan kepentingan umum daripada kepentingan pribadi.
Wakaf (biasanya dapat) diberikan kepada badan hukum yang bergerak dalam bidang sosial kemasyarakatan. Hal ini sesuai dengan kaidah usul fiqih yaitu; “Kemaslahatan umum harus didahulukan daripada kemaslahatan yang khusus.”
Tujuan wakaf dapat tercapai dengan baik, apabila faktor-faktor pendukungnya ada dan berjalan. Misalnya nadir atau pemelihara barang wakaf. Wakaf yang diserahkan kepada badan hukum biasanya tidak mengalami kesulitan. Karena mekanisme kerja, susunan personalia, dan program kerja telah disiapkan secara matang oleh yayasan penanggung jawabnya.[7]
Adapun manfaat wakaf bagi orang yang menerima atau masyarakat adalah:
Mampu menghilangkan kebodohan dan mencerdaskan ummat.
Mampu menghilangkan atau mengurangi tingkat kemiskinan.
Mampu menghilangkan atau mengurangi kesenjangan sosial sehingga laju ekonomi tidak terpusat pada kelompok masyarakat ekonomi kelas atas saja.
Mampu menstimulus kemajuan serta meningkatkan kesejahteraan ummat.
Wallahu a'lam.

Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar