Minggu, 28 Agustus 2016

Sudahkah Kita Peduli Dengan Anak Yatim ?

Definisi yatim yang kita ketahui adalah anak yang ditinggal mati oleh ayahnya, namun pengertian yatim yang lebih luas bisa bermakna dari kata “yang sendiri atau kesendiriaan”, ia tidak punya pemimpin keluarga, sosok panutan keluarga dan senantiasa sendiri menghadapi berbagai masalah kehidupan. Masalah yang dihadapi anak yatim biasanya tidak terlepas dari 2 hal, masalah ekonomi dan kasih sayang. Seiiring meninggalnya ayah sebagai tulang punggung keluarga maka sumber penghasilan keluarga akan berkurang atau bahkan berhenti, tidak jarang keluarga yang ditinggal mati oleh ayahnya maka yang terjadi selanjutnya adalah menjual asset untuk mencukupi kebutuhan hidup, rumah, mobil, tanah dan lain sebagainya adalah asset yang menjadi daftar jual untuk makan, sekolah dan biaya hidup lainnya, namun ada lagi kebutuhan anak yatim yang lebih penting lagi dari masalah ekonomi, kasih sayang, masalah ini sering tidak terperhatikan oleh keluarga dan masyarakat, perasaan kehilangan yang teramat sangat mungkin dapat mengguncang jiwa anak, perasaan kehilangan orang yang dicitai dapat merubah karakter anak itu sendiri, sudah terbayangkan dalam benak anak, meninggalnya ayah berarti kehilangan kasih sayang dan sejumlah fasilitas yang terbiasa diterima. 


Islam sebagai agama yang luhur sangat memperhatikan kondisi anak yatim, bahkan Islam mengkatagorikan orang yang menterlantarkan anak yatim sebagai pendusta agama, seseorang yang menghardik anak yatim, ketika anak yatim itu datang kepadanya meminta bantuan maka orang tersebut bisa dikatagorikan bohong agamanya, meskipun ia berilmu tinggi, berharta banyak, berpangkat tinggi dan lain sebagainya. Nabi kita, Nabi Muhammad SAW, adalah anak yatim sejak ia masih didalam kandungan, ditambah lagi meninggalnya ibu yang dicintainya ketika Nabi masih di usia yang sangat muda, Nabi Muhammad sejak masa kecilnya terbiasa hidup sederhana, bahkan mungkin sangat sederhana, orang tuanya tidak mewarisi harta yang banyak, oleh karena itu, Nabi Muhammad semenjak kecilnya harus berkerja keras, kadang ia bekerja sebagai penggembala dan pedagang, semua itu dilakukan untuk membantu pamannya yang juga hidup sederhana. 

Islam menganjurkan untuk berbuat baik kepada anak yatim, keutamaan terbesar berbuat baik terhadap anak yatim adalah mengambilnya sebagai anak angkat, anak yatim hadir dirumah kita, makan bersama kita, ia kita sekolahkan, kita cukupi kebutuhan ekonomi dan kasih sayangnya, kita didik anak yatim masalah keagamaannya, insyaAllah anak yatim akan tumbuh dengan baik, ia tidak anak menjadi anak nakal, tidak akan tumbuh menjadi anak yang menghalalkan segala cara untuk mendapatkan apa yang diinginkannya. Maukah kita memiliki rumah yang diberi label “sebaik-baik rumah’ ? itulah rumah yang ada anak yatim didalamnya yang diurus dengan baik, itulah yang disampaikan Nabi Muhammad SAW kepada kita. 

Perlakuan yang berbeda terhadap anak yatim akan melahirkan manusia yang berbeda juga, anak yatim yang diberi perlindungan, diberikan kasih sayang, diberi pendidikan agama dan dicukupkan kehidupannya akan tumbuh menjadi anak yang baik, sholeh, sopan, santun dan sifat-sifat baik lainnya. Sementara anak yatim yang tidak terlidungi, ia hidup dijalanan, ia akan menjadi korban kekerasan anak, bahkan akan menjadi korban para manusia bejat yang menyalurkan hasrat seksualnya pada anak, ia akan tumbuh menjadi manusia yang kasar, keras dan kejam, ia akan menghalalkan segala cara untuk mendpatkan apa yang dikehendakinya. 

Karena itu agar bangsa ini menjadi bangsa yang tenang, tentram dan damai maka perhatikanlah anak-anak yatim disekitar kita, kita peduli akan nasib anak yatim dilingkungan kita, kita lindungi anak-anak yatim, kita berikan kasih sayang kepada anak yatim, karena memelihara satu orang manusia ibaratnya seperti memelihara manusia seluruhnya, memperhatikan anak yatim adalah adalah memperhatikan masalah kemanusiaan. Sudahkah kita peduli dengan anak yatim ?


Sumber : Rumah Yatim

Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar