Sekretariat : Jl Topaz V No 32 Perum Pondok Permata Suci (PPS ) Kec. Manyar Kab. Gresik

Email : yayasan_allail@yahoo.com / yayasanallail14@gmail.com Website : www.yayasanallail.com. Phone/SMS/WA. 085706408238 No. Rek BSM: 7074005475 BRI: 759601002831534 BCA Syari'ah: 0338989899 BNI: 0362314663 a/n Yayasan AL Lail

Sekretariat : Jl Topaz V No 32 Perum Pondok Permata Suci (PPS ) Kec. Manyar Kab. Gresik

Email : yayasan_allail@yahoo.com / yayasanallail14@gmail.com Website : www.yayasanallail.com. Phone/SMS/WA. 085706408238 No. Rek BSM: 7074005475 BRI: 759601002831534 BCA Syari'ah: 0338989899 BNI: 0362314663 a/n Yayasan AL Lail

Sekretariat : Jl Topaz V No 32 Perum Pondok Permata Suci (PPS ) Kec. Manyar Kab. Gresik

Email : yayasan_allail@yahoo.com / yayasanallail14@gmail.com Website : www.yayasanallail.com. Phone/SMS/WA. 085706408238 No. Rek BSM: 7074005475 BRI: 759601002831534 BCA Syari'ah: 0338989899 BNI: 0362314663 a/n Yayasan AL Lail

Sekretariat : Jl Topaz V No 32 Perum Pondok Permata Suci (PPS ) Kec. Manyar Kab. Gresik

Email : yayasan_allail@yahoo.com / yayasanallail14@gmail.com Website : www.yayasanallail.com. Phone/SMS/WA. 085706408238 No. Rek BSM: 7074005475 BRI: 759601002831534 BCA Syari'ah: 0338989899 BNI: 0362314663 a/n Yayasan AL Lail

Selasa, 27 November 2018

Pendaftaran Santri Baru



PESANTREN TAHFIZHUL QUR’AN AL-LAIL
Maraknya pergaulan bebas, canggihnya teknologi membuat manusia terlena terhadap kesenangan prakmatisme sehingga saat ini dibutuhkan sebuah solusi riil untuk diadakan sebuah layanan pendidikan al-Qur’an. Untuk itu Pesantren Tahfizhul Qur’an Al-Lail hadir untuk menjawab permasalahan tersebut, dengan program khusus Tahfizhul Qur’an dan pembelajaran  keislaman sesuai jenjang pendidikan.

Pesantren Tahfizhul Qur’an merupakan salah satu dari kegiatan amal usaha yang ada dibawah naungan Yayasan Al-Lail. Didirikannya Pesantren Tahfizhul Qur’an Al-Lail  karena melihat pentingnya generasi muslim khususnya kalangan pemuda dan pemudi sebagai generasi penerus perjuangan Islam di masa yang akan datang.

SANTRI PESANTREN TAHFIZHUL QUR’AN AL-LAIL
Santri di Pesantren Tahfizhul Qur’an  terdiri dari dua katagori, yaitu santri berasrama dan santri non asrama atau yang disebut dengan santri kalong. Santri berasrama adalah santri yang tinggal di asrama dan mengikuti kegiatan asrama selama 24 jam dengan sistem pembelajaran home schooling fokus pada Tahfizhul Qur’an dan pembelajaran keislaman. Sementara santri kalong adalah santri yang tidak tinggal di asrama, namun mengikuti kegiatan pembelajaran di Pesantren Tahfizhul Qur’an di luar jam sekolah formal. Program ini diperuntuhkan bagi warga sekitar dan masyarakat umum yang peduli terhadap pendidikan al-Qur’an.

PENERIMAAN SANTRI BARU
Pesantren Tahfizhul Qur’an Al-Lail, menerima pendaftaran santri baru dengan kriteria:
· Beasiswa 100% (asrama,makan, pendidikan) bagi santri yatim, piyatu, dhu’afa’.
. Bagi santri selain yang disebutkan di atas dikenakan biaya sesuai biaya yang sudah ditentukan
· Bagi santri kalong dikenakan infaq dan sadaqah sesuai kemampuan.

PROGRAM DAN PERSYARATAN CALON SANTRI
1Tingkat SD Tahfizh al-Qur'an
Syarat :
· Laki-laki / perempuan
· Usia minimal 6 tahun dan maksimal 12th (1SD-6SD)
· Mengisi formulir pendaftaran
· Menyerahkan foto copy KK,akta kelahiran
· Siap tinggal diasrama
· Mengikuti program asrama dan pembelajaran keislaman dan umum tingkat SD/MI dengan sistem Home Schooling


2. Tingkat SMP/MTs Tahfizh al-Qur’an Program 6 Tahun ( Plus SMA/MA )
Syarat :
· Laki-laki / perempuan
· Usia minimal 12 tahun
· Lulus SD/ MI/ sederajat
· Mengisi formulir pendaftaran
· Menyerahkan foto copy KK,akta kelahiran dan Ijazah terakhir
· Siap tinggal diasrama
· Mengikuti program asrama dan pembelajaran keislaman dan umum tingkat SMP/MTs/SMA/MA dengan sistem Home Schooling

3. Tahfizh Qur’an Murni (TQM) Program 4 tahun
Syarat :
· Laki-laki/perempuan
· Usia Bebas ( anak, remaja, dewasa, paruh baya)
· Mengisi formulir pendaftaran
· Menyerahkan foto copy KK,akta kelahiran dan Ijazah terakhir
· Siap tinggal di asrama
· Mengikuti program asrama dan pembelajaran keislaman dan umum

4. Pesantren Tahfizh al-Qur’an Anak Muslim-Muslimah Indonesia (AMMI)
Syarat :
· Laki-laki/perempuan
· Usia minimal 4 tahun, maksimal 20 tahun
· Mengisi formulir pendaftaran
 -Mengisi surat pernyataan kesanggupan menjadi santri / mengikuti program kegiatan pendidikan sampai SMA/MA
· Menyerahkan foto copy KK,akta kelahiran dan Ijazah terakhir
· Yatim, piatu,  dhuafa' dan muallaf
· Siap tinggal di asrama
· Mengikuti program asrama dan pembelajaran keislaman dan umum dengan sistem Home Schooling

5. Taman Pendidikan Al-Qur’an / TPQ (Santri Kalong)
Syarat :
· Laki-laki/perempuan
· Usia minimal 2 tahun maksimal 6 tahun
· Mengisi formulir pendaftaran
· Menyerahkan foto copy KK,akta kelahiran dan raport terakhir
· Siap mengikuti kegiatan pembelajaran al-Qur’an di asrama sesuai jadwal (di luar jam sekolah formal)

TEMPAT PENDAFTARAN
Sekretariat : Jl Topaz V no 32 Perum pondok Permata Suci (PPS) Manyar Gresik Jatim. Phone/SMS/WA PPSB: 085225264224. Email: yayasan_allail@yahoo.com / yayasanallail14@gmail.com. Website : www.yayasanallail.com

“Al-Lail Mencetak Generasi Qur’ani”

Kamis, 08 November 2018

Audio : Tilawatil Qur'an


Salurkan zakat, infak, shadaqah dan wakaf anda melalui Pesantren Tahfizhul Qur'an Yayasan Al-Lail.

Rekening donasi :
BRI : 759601002831534
BSM : 707400547 
BCA Syari'ah : 0338989899 
BNI : 0362314663 

Konfirmasi via WA ke : 085706408238

Kapan Kita Ajarkan Membaca Al Qur’an?


Oleh : Mohammad Fauzil Adhim*

Marilah kita akhiri acara kita dengan sama-sama membaca doa penutup majelis.” Anda pernah mendengar ungkapan semacam itu? Apakah yang dimaksud dengan membaca pada kalimat tersebut? Apakah kita kemudian mengambil secarik kertas yang berisi tulisan doa, lalu membacanya? Tidak. Yang dimaksud dengan membaca pada perkataan tersebut adalah reciting, yakni mengucapkan satu kalimat atau serangkaian kalimat yang kita bahkan telah menghafalnya. Sama halnya dengan penggunaan kata membaca dalam ungkapan “pembacaan doa yang akan dipimpin oleh…” sama sekali tidak merujuk kepada tindakan seseorang untuk mengambil secarik kertas atau buku yang berisi serangkaian doa, membacanya, lalu orang lain juga melakukan hal yang sama, yakni membaca tulisan yang dipimpin orang tersebut. Yang terjadi adalah, seseorang berdoa sementara yang lain mengaminkannya. Tetapi kegiatan ini kita menyebutnya dengan membaca.

Berkait dengan mempelajari dan mengajarkan Al-Qur’an, kita mengenal kegiatan membaca bil ghaib dan bil nadzri. Yang dimaksud dengan membaca Al-Qur’an bil ghaib adalah “membaca” tanpa melihat mushhaf. Jika diterapkan pada anak-anak, misalnya kita melafalkan ayat-ayat Al-Qur’an, lalu anak menirukannya. Atau pada tahapan lebih awal lagi cukup dengan memperdengarkan. Tetapi kita mengenalnya dengan istilah membaca, padahal yang terjadi adalah memperdengarkan. Adapun membaca bil nadzri adalah membaca Al-Qur’an dengan melihat mushhaf, memahami kaidah-kaidah membaca, mengenali huruf-hurufnya serta hukum bacaannya.

Di sini kita melihat sekurangnya ada tiga arti membaca Al-Qur’an.
Pertama, memperdengarkan kepada bayi ayat-ayat yang kita hafal (reciting aloud) atau kita baca dengan melihat mushhaf (reading aloud). Dalam hal ini, proses yang berlangsung adalah anak menerima dan merekam (receiving and recording) sehingga memudahkan baginya untukmenghafal (memorizing) di kemudian hari.

Kedua, memperdengarkan kepada anak, lalu anak menirukan apa yang kita perdengarkan tersebut. Proses memperdengarkan tersebut dapat berbentuk reciting aloud, dapat pula berupa reading aloud. Hanya saja anak kita minta untuk menirukan. Dalam hal ini, proses yang terjadi lebih kompleks, yakni menerima, mengolah dan memproduksi ucapan sesuai yang ia dengar.

Ketiga, mengajarkan kepada anak mengenali simbol-simbol berupa huruf dan mengubah rangkaian simbol menjadi satu kata bermakna dan selanjutnya menjadi kalimat utuh bermakna. Sebuah proses yang sangat kompleks. Inilah kegiatan yang secara umum disebut mengajarkan membaca (reading).

Pengertian ketiga tentang membaca Al-Qur’an itulah yang dikenal sebagai kegiatan membaca (reading) dalam diskusi tentang literasi, pun pembahasan tentang persekolahan.

Adapun pengertian pertama maupun kedua biasa dikenal dalam kegiatan pembelajaran membaca sebagai pre-reading experience (pengalaman pra-membaca). Saya sempat membahas tentang pengalaman pra-membaca ini di buku Membuat Anak Gila Membaca.

Jika Anda ingin anak senang membaca, salah satu hal yang dapat kita berikan sejak usia dini adalah pengalaman pra-membaca. Tetapi saya tidak sedang mendiskusikan hal tersebut saat ini. Saya ingin lebih fokus pada pembahasan tentang berbagai makna membaca tersebut. Semoga dengan demikian kita dapat memberikan rangsang mendidik yang tepat kepada anak.

Saya merasa perlu membahas ini agar kita tidak gegabah menyalahkan maupun membela. Sebagian saudara kita ada yang dengan gegabah menganggap bahwa menunda mengajarkan membaca dalam pengertian reading (menangkap simbol berupa huruf, mengolah dan mengucapkannya menjadi kata maupun kalimat) hingga usia anak cukup matang sebagai makar Yahudi dan sikap yang menyalahi salafush shalih. Padahal yang kita dapati pada sejarah para ulama, pembelajaran membaca yang dimaksud lebih bersifat reciting aloud maupun reading aloud.

Sampai saat ini kita masih mendapati berbagai contoh bagaimana seorang syaikh membacakan suatu ayat, lalu anak menirukannya. Ini merupakan metode warisan Islam yang sangat bagus. Melalui cara ini anak belajar secara alamiah untuk mengucapkan (reciting) ayat-ayat dengan benar, makharijul huruf yang tepat dan menghafal banyak surat bahkan sebelum ia mampu membaca. Hanya saja hafalan Al-Qur’an mereka kerap disebut dengan ungkapan “anak sudah memiliki bacaan Al-Qur’an yang sangat bagus” atau “anak memiliki disiplin membaca Al-Qur’an semenjak dini”, meskipun yang dimaksud adalah reciting.

Barangkali, inilah resiko tinggal di negeri yang miskin bahasa. Apalagi jika diperparah dengan keengganan membaca dengan tenang, menelaah dengan jernih dan memahami dengan baik. Dua sikap yang kita sangat perlu berhati-hati adalah ifrathdan tafrith.

*Penulis : Mohammad Fauzil AdhimPenulis buku parenting
=====

Salurkan zakat, infak, shadaqah dan wakaf anda melalui Pesantren Tahfizhul Qur'an Yayasan Al-Lail.

Rekening donasi :
BRI : 759601002831534
BSM : 707400547 
BCA Syari'ah : 0338989899 
BNI : 0362314663 
Konfirmasi via WA ke : 085706408238

Pentingnya Mengembangkan Keterampilan Sosial

Oleh : Adi Sulistama*

Memiliki teman ataupun sahabat adalah salah satu pondasi dalam kehidupan. Seorang teman yang baik akan dapat memberikan pengaruh dan mengubah kehidupan ke arah yang lebih baik. Untuk dapat memiliki teman, seseorang harus memiliki keterampilan sosial yang harus dilatih sejak usia dini, begitupun dengan anak-anak. Usia mereka yang masih begitu dini, terkadang membuat anak-anak kesulitan bersosialisasi dan mendapatkan teman di lingkungannya yang baru.

Anak-anak yang pandai bersosialisasi dengan lingkungannya yang baru, tentunya tidak hanya membuat mereka akan mudah memiliki teman. Namun juga, akan membuat mereka tidak akan kesulitan dibawa berkunjung ke tempat-tempat yang baru. Salah satu faktor yang mudah membuat anak bersosialisasi dengan lingkungannya juga dipengaruhi oleh kepribadian si anak. Akan lebih mudah bagi anak bisa menjadi pertemanan dengan lingkungannya tanpa bantuan orangtua jika anak anda memiliki kepribadian yang menyenangkan. Lain halnya, dengan anak yang pemalu. Mereka akan cenderung kesulitan bisa bergabung dan berbaur dengan anak lainnya. Untuk itulah, sudah menjadi tugas seorang orangtua dalam membantu anak mengatasi masalahnya, termasuk masalah untuk bersosialisasi.

Anak-anak biasanya akan mencontoh segala perilaku dan sikap yang mereka lihat dari lingkungannya, yang mana lingkungan terdekat anak adalah keluarga. Maka jangan heran jika anak akan cenderung meniru dan mengadaptasi sikap orangtunya. Nah, dalam membantu anak untuk bisa bersosialisasi lebih mudah dengan lingkungannya, maka orangtua perlu menjadi role model yang baik untuk anak-anak.

Berikan contoh yang baik pada anak-anak bagaimana menjalin komunikasi dengan orang lain. Ketika anak-anak melihat kedua orangtuanya mampu menjalin persahabatan dan pertemanan dengan lingkungannya, maka akan secara otomatis hal ini juga diadaptasi oleh anak-anak. Perlihatkan pada anak bagaimana menyapa dan memulai percakapan dengan orang lain. Buat mereka memahami bagaimana bersosialisasi yang baik dengan orang lain.

Anak-anak umumnya juga akan dapat menikmati dan menunjukkan minatnya dalam sebuah kegiatan jika di dalamnya ada anak-anak lain. Hal ini bisa dijadikan sebagai media yang menjembatani anak agar mudah bersosialisasi dengan teman-temannya. Untuk itu, carilah kegiatan yang bisa dilakukan oleh si anak bersama dengan teman-temannya. Selain akan mendapatkan keterampilan baru untuknya, anak juga akan memiliki kesempatan untuk dapat berinteraksi dan menemukan teman baru.

Kegiatan tersebut tidak perlu hal yang susah atau memerlukan dana yang mahal. Orangtua tetap bisa merancang sebuah kegiatan yang mudah dan murah, seperti mengikut sertakan anak dalam kegiatan PAUD. Di PAUD, terdapat banyak kegiatan yang interaktif di mana anak-anak dituntut untuk melatih dan mengembangkan kemampuannya dalam berkomunikasi dan menjalin interaksi dengan teman barunya.

Jelaskan pula pada anak arti penting memiliki teman. Hal ini akan membuat anak menyadari bagaimana pentingnya bersosialisasi dan mendapatkan teman. Hanya saja, jika anak adalah tipikal anak yang pemalu, maka orangtua tidak perlu memaksa. Anak yang pemalu umumnya membutuhkan lebih banyak waktu untuk membuka diri dan memulai berinteraksi, apalagi dengan lingkungannya yang baru. Untuk itulah, orangtua harus mengerti dan memberikan mereka apa yang mereka inginkan. Akan ada waktunya, di mana mereka sudah merasa nyaman dengan lingkungannya, mereka akan mulai bersosialisasi dengan lingkungannya.

Orangtua juga dapat melatih anak bagaimana cara berinteraksi dengan orang lain. Terkadang, tidak sedikit orangtua yang merasa kesal saat anak-anak mereka hanya berdiam diri dan tidak mencoba berbaur dengan teman lainnya. Sehingga orangtua malah akan memaksa anak untuk terburu mendapatkan teman. Hal ini justru tidak akan berhasil dan tidak membuat anak-anak dengan mudah mendapatkan teman. Sebaliknya, hal ini malah akan memberikan tekanan dan membuat anak-anak semakin mundur untuk mulai bersosialiasi dengan orang lain. Sebaiknya kontrol emosi. Daripada memaksakan kehendak, akan lebih baik terus memberikan dorongan dan memfasilitasi anak agar bisa berteman dan berinteraksi dengan yang lainnya.

*Adi SulistamaPemerhati masalah pendidikan

======
Salurkan zakat, infak, shadaqah dan wakaf anda melalui Pesantren Tahfizhul Qur'an Yayasan Al-Lail.

Rekening donasi :
BRI : 759601002831534
BSM : 707400547 
BCA Syari'ah : 0338989899 
BNI : 0362314663 
Konfirmasi via WA ke : 085706408238