Jumat, 21 Desember 2018

Menumbuhkan Empati Kepada Anak

Oleh : Mohammad Fauzil Adhim*


Membiasakan anak "bersedekah" dengan uang titipan orangtua tidak dengan sendirinya menjadikan anak-anak itu peka hatinya, tumbuh empatinya dan memiliki kemauan menyisihkan dari hartanya sendiri untuk sedekah atau amal shalih lainnya. Anak memerlukan pengalaman berkorban, yakni benar-benar mengeluarkan harta miliknya meskipun berupa uang saku dan bukan sekedar menjadi pembawa sedekah orangtua yang disalurkan lewat sekolah saat ada mobilisasi dana kepedulian ummat.


Pengalaman pun tidak cukup. Benar bahwa anak perlu mengalami sendiri, tetapi sekedar pengalaman tak cukup untuk menguatkan kepedulian dan kesediaan berkorban. Harus ada landasan yang kokoh berupa keyakinan terhadap agama. Ringan disebut, tetapi sungguh hanya iman yang mudah menggerakkan jiwa untuk berbuat tanpa menunggu ada yang mendesaknya beramal.


Empati juga memudahkan anak berbagi tanpa menunggu berlebih. Jika empatinya kuat, ada bahkan dapat menyisihkan uang saku berhari-hari agar dapat memberi dan menolong orang lain. Empati kepada orang lain serta empati kepada keluarga terdekatnya. Di antara hal yang memudahkan tumbuhnya empati kepada orangtua dan saudara-saudaranya adalah suasana keluarga yang bersahabat, adil dan saling merindukan.

 

Eratnya hubungan emosi antara anak dan keluarga tumbuh dari pengasuhan yang senantiasa menegakkan hilm (kelembutan beriring ketenangan) serta anah (kesanggupan menahan diri tidak bertindak kecuali setelah jelas segala sesuatunya). Penguat empati lainnya adalah keterlibatan anak dalam pekerjaan rumah-tangga, meskipun hanya soal melipat merapikan pakaiannya sendiri maupun menyiapkan makan malamnya atau makan malam untuk keluarga yang sedang tidak sehat.


Sangat mengharukan mendapati anak-anak yang segera tanggap ketika mendapati orangtua kurang sehat, meski mereka masih amat belia. Usia belum lagi 10 tahun. Trenyuh ketika anak usia 8 tahun menyisihkan uang sakunya demi membeli bingkisan untuk sahabatnya yang beberapa hari tidak masuk sekolah karena sakit. Sebagaimana teduh mendengar anak menawari menyiapkan makan siang saat ada kegiatan di luar rumah. Masakan seadanya dari anak yang masih SD rasanya lebih nikmat dibanding sajian di rumah makan.


*Mohammad Fauzil Adhim, Penulis Buku dan Pakar Parenting

**Sumber : majalahfahma.com


Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar