“Bukan Bakat, Tapi Mental: Faktor Utama yang Menentukan Keberhasilan
Anak”
Oleh: Laili Farikhatur Rohma, S.Kep., Ns.,M.M.,M.Pd.
Abstrak
Keberhasilan anak dalam
belajar dan kehidupan tidak hanya dipengaruhi oleh bakat bawaan, tetapi lebih
ditentukan oleh kualitas karakter, proses latihan, dan minat yang dibangun
secara bertahap. Artikel ini menguraikan lima faktor utama yang berpengaruh
terhadap keberhasilan anak, yaitu sikap dasar mental, praktek mendalam, minat,
bakat, dan kemampuan. Dengan merangkum temuan berbagai penelitian pendidikan
dan psikologi perkembangan, artikel ini menegaskan bahwa keberhasilan lebih
banyak ditentukan oleh faktor internal yang dapat dibentuk melalui pendidikan
yang tepat, bukan oleh bakat bawaan semata. Artikel ini disusun untuk
memberikan pemahaman bagi orang tua, pendidik, dan lembaga pengasuhan tentang
pentingnya membangun karakter dan kebiasaan belajar sebagai fondasi kesuksesan
jangka panjang.
Pendahuluan
Keberhasilan
anak dalam belajar dan kehidupan tidak hanya ditentukan oleh kecerdasan atau
bakat. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa faktor yang paling berpengaruh
justru berasal dari kualitas karakter, lingkungan, dan proses pembelajaran yang
dijalani anak. Dalam konteks pendidikan modern, penting bagi orang tua,
pendidik, dan lembaga pengasuhan untuk memahami secara tepat faktor-faktor apa
saja yang memiliki kontribusi terbesar terhadap perkembangan anak. Artikel ini
menguraikan lima faktor utama yang memengaruhi kesuksesan anak, dimulai dari
faktor yang paling penting hingga yang memiliki pengaruh relatif lebih kecil.
Pembahasan
1. Kualitas Sikap Dasar Mental (Faktor Paling Penting)
Sikap
dasar mental merupakan fondasi yang tidak tergantikan dalam menentukan
kesuksesan anak. Sikap mental ini meliputi tanggung jawab, disiplin, ketekunan,
rasa ingin tahu, adab yang baik, dan kemampuan mengelola emosi. Anak dengan
mental yang baik dapat berkembang pesat meskipun tidak memiliki bakat istimewa.
Berbagai penelitian character education menunjukkan bahwa ketekunan
(grit), disiplin, dan kemampuan mengelola diri memiliki korelasi kuat dengan
keberhasilan akademik dan non-akademik (Duckworth, 2016).
Sikap mental yang positif membuat anak tidak mudah menyerah, mampu menghadapi
kesulitan, serta terus memperbaiki diri dari waktu ke waktu. Dalam banyak kasus
di lapangan, anak yang memiliki karakter baik dan etos kerja tinggi lebih mampu
sukses dibandingkan anak berbakat namun kurang disiplin. Mental yang baik
adalah pondasi utama kesuksesan yang tidak dapat digantikan oleh bakat semata.
2. Praktek Mendalam (Deep Practice)
Praktek
mendalam adalah latihan yang dilakukan secara konsisten, terarah, dan disertai
evaluasi berkala. Konsep ini diperkenalkan oleh Daniel Coyle (2009), yang
menyebut bahwa latihan mendalam mampu menciptakan myelin, lapisan saraf
yang memperkuat kemampuan seseorang.
Anak yang rajin berlatih akan mengalami peningkatan kemampuan signifikan,
bahkan melebihi anak berbakat yang tidak pernah berlatih secara serius. Deep
practice melibatkan pengulangan terfokus, analisis kesalahan, dan perbaikan
terus-menerus. Para ahli sering menyimpulkan bahwa latihan mengalahkan bakat
terutama dalam jangka panjang. Anak yang berlatih secara rutin dan terarah akan
mengungguli anak berbakat yang tidak berlatih.
3. Minat (Dapat Dibentuk dan Dibangun)
Minat
merupakan tenaga pendorong internal yang membuat anak antusias belajar. Berbeda
dari anggapan umum, minat tidak selalu hadir secara alami, tetapi dapat
diperkenalkan, dibangun, dan dipupuk melalui lingkungan yang tepat.
Ketika anak tertarik pada suatu bidang, energi belajarnya meningkat dan
motivasi intrinsik tumbuh dengan kuat. Penelitian psikologi pendidikan
menunjukkan bahwa minat berperan besar dalam meningkatkan kreativitas, fokus,
dan ketahanan belajar (Hidi & Renninger, 2006).
Peran orang tua, guru, dan lingkungan sangat penting dalam memperkenalkan
berbagai pengalaman positif agar minat anak tumbuh. Minat dapat dibangun dan
menjadi motor penggerak kesungguhan belajar anak.
4. Bakat (Bukan Penentu Utama)
Bakat
memang merupakan potensi bawaan yang dimiliki sebagian anak sejak lahir, tetapi
bukan faktor penentu utama dalam keberhasilan.
Tanpa sikap mental yang baik dan latihan mendalam, bakat tidak akan
menghasilkan prestasi yang signifikan. Penelitian terhadap atlet, musisi, dan
pelajar berprestasi menunjukkan bahwa sebagian besar dari mereka mencapai
sukses melalui latihan intensif, bukan semata bakat lahiriah (Ericsson, 1993).
Bakat hanya memberi awal yang lebih cepat, tetapi hasil akhir ditentukan oleh
kerja keras, karakter, dan konsistensi. Bakat penting tetapi bukan faktor yang
menentukan keberhasilan akhir seseorang.
5. Kemampuan (Hasil dari Proses)
Kemampuan
merupakan output dari berbagai faktor: sikap mental, latihan, minat, dan bakat.
Kemampuan bukan sesuatu yang statis, tetapi terus berkembang melalui pengalaman
belajar dan latihan.
Keterampilan yang tampak pada seorang anak adalah hasil proses panjang yang
melibatkan berbagai faktor penguat. Anak yang dibangun sikap mentalnya,
dibiasakan berlatih, ditumbuhkan minatnya, serta diarahkan potensinya akan
memiliki kemampuan kuat dan berkelanjutan. Kemampuan adalah buah dari proses
panjang yang melibatkan karakter, latihan, minat, dan bakat.
Penutup
Keberhasilan
anak tidak dapat disederhanakan hanya pada faktor bakat atau kecerdasan semata.
Studi pendidikan modern menunjukkan bahwa faktor karakter dan proses belajar
memiliki pengaruh jauh lebih besar dibanding bakat bawaan. Oleh karena itu,
orang tua dan pendidik perlu lebih menekankan penguatan sikap mental,
pembiasaan latihan, serta pengembangan minat anak. Bila fondasi karakter kuat
dan proses belajar dilakukan secara konsisten, kemampuan anak akan berkembang
secara optimal meskipun tidak memiliki bakat luar biasa. Dengan demikian,
investasi terbaik dalam pendidikan anak adalah membangun karakter dan kebiasaan
belajar yang positif.
Daftar Pustaka
- Coyle, D. (2009). The
Talent Code: Greatness Isn’t Born. It’s Grown. Bantam Books.
- Duckworth, A. (2016).
Grit: The Power of Passion and Perseverance. Scribner.
- Ericsson, K. A.,
Krampe, R. T., & Tesch-Römer, C. (1993). The role of deliberate
practice in the acquisition of expert performance. Psychological
Review.
- Hidi, S., &
Renninger, K. A. (2006). The Four-Phase Model of Interest Development.
Educational Psychologist.
- Tough, P. (2012). How
Children Succeed: Grit, Curiosity, and the Hidden Power of Character.
Houghton Mifflin Harcourt.


