YAYASAN AL LAIL MEMBESARKANNYA, KINI MARYAM KEMBALI MEMBANGUN GENERASI
GRESIK — Di sebuah pelosok Madura, seorang anak perempuan tumbuh dalam keterbatasan. Ia kehilangan ibunya sejak kecil dan menjalani masa kanak-kanaknya dalam kondisi ekonomi yang tidak mudah.
Namanya Maryam.
Ketika masih duduk di kelas 2 SD, sebuah keputusan penting diambil oleh walinya. Dengan harapan agar Maryam mendapatkan pengasuhan dan pendidikan yang lebih baik, sang wali mempercayakan pengasuhan dan pendidikan Maryam kepada Yayasan Al Lail.
Saat pertama datang, Maryam bukanlah seorang anak yang sudah memiliki kemampuan istimewa.
Ia masih harus belajar dari awal.
Mengenal huruf. Belajar membaca. Belajar menulis. Belajar mengaji.
Perjalanan itu tentu tidak singkat.
Namun, justru dari titik sederhana itulah sebuah perjalanan besar dimulai.
Bertahun-tahun kemudian, anak perempuan dari pelosok Madura itu tumbuh menjadi seorang penghafal 30 juz Al-Qur’an. Di usia 14 tahun, ia telah menyelesaikan hafalannya dan memperoleh Syahadah Qiroati.
Hari ini, Maryam telah menjadi mahasiswa semester 6.
Tetapi kisahnya tidak berhenti pada keberhasilan akademik dan hafalan Al-Qur’an.
Ada sesuatu yang jauh lebih menyentuh.
Maryam memilih untuk kembali.
Bukan sekadar untuk mengenang tempat yang pernah membesarkannya, tetapi untuk ikut mengajar, mengasuh, mendampingi, dan membangun generasi yang sedang tumbuh di sana.
Dari Anak yang Diasuh, Menjadi Pengasuh
Dulu, Maryam adalah anak yang membutuhkan seseorang untuk menuntunnya.
Kini, ia menjadi salah satu sosok yang menuntun anak-anak lain.
Dulu, ia membutuhkan seseorang untuk mengajarinya membaca.
Kini, ia berdiri di hadapan adik-adiknya untuk mengajarkan ilmu yang telah ia dapatkan.
Dulu, ia datang sebagai anak binaan.
Kini, ia ikut membina.
Dulu diasuh, kini mengasuh.
Dulu dibimbing, kini membimbing.
Dulu belajar, kini mengajarkan.
Perubahan itu tidak terjadi dalam semalam.
Maryam tumbuh melalui proses pengasuhan, pendidikan, pembinaan Al-Qur’an, kedisiplinan, serta pengalaman hidup yang perlahan membentuk karakter dan daya juangnya.
Ia belajar bahwa kehidupan tidak selalu mudah.
Namun ia juga belajar bahwa keterbatasan bukan alasan untuk berhenti bermimpi.
Dari Belajar Membaca hingga Hafal 30 Juz
Perjalanan Maryam bersama Al-Qur’an dimulai dari dasar.
Ia harus mengenal huruf, belajar membaca, memperbaiki bacaan, mempelajari tajwid, kemudian menghafalkan ayat demi ayat.
Satu demi satu.
Hari demi hari.
Dengan pengulangan dan muraja’ah yang terus dilakukan.
Hingga pada usia 14 tahun, Maryam berhasil menyelesaikan hafalan 30 juz Al-Qur’an.
Ia juga memperoleh Syahadah Qiroati, menjadi salah satu capaian penting dalam perjalanan belajarnya membaca Al-Qur’an.
Namun, Al-Qur’an bagi Maryam bukan sekadar hafalan.
Proses panjang tersebut ikut membentuk dirinya menjadi pribadi yang disiplin, bertanggung jawab, sabar, dan memiliki daya juang.
Ketika akhirnya Maryam melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi, Yayasan Al Lail tetap berada di belakang perjalanan pendidikannya. Lembaga yang telah mengasuh dan membesarkannya sejak kelas 2 SD itu terus memberikan dukungan agar Maryam dapat melanjutkan pendidikan hingga perguruan tinggi.
Dukungan tersebut menjadi bagian dari perjalanan panjang yang telah dimulai sejak ia masih kecil—dari belajar membaca dan menulis, belajar mengaji, menghafal Al-Qur’an, hingga akhirnya mendapatkan kesempatan untuk menempuh pendidikan tinggi.
Namun, keberhasilan tersebut tidak membuat Maryam melupakan tempat yang telah membesarkannya.
Ia justru memilih untuk kembali.
Ketika Keberhasilan Tidak Membuatnya Pergi
Hari ini, Maryam telah menjadi mahasiswa semester 6. Di tengah perjalanan pendidikannya di perguruan tinggi, ia tetap aktif mengajar dan mengasuh anak-anak di LKSA Al Lail.
Ia menjadi pengajar, kakak asuh, pendamping, sekaligus ikut mengambil peran sebagai leader bagi adik-adiknya.
Ada sebuah lingkaran kebaikan yang seakan kembali kepada titik awal.
Yayasan Al Lail dahulu membesarkan Maryam. Kini, Maryam tumbuh dan ikut membesarkan generasi berikutnya.
Bagi sebagian orang, menjalankan berbagai tanggung jawab tersebut mungkin tidak mudah.
Tetapi Maryam memiliki pengalaman yang membuatnya memahami anak-anak yang kini berada di sekelilingnya.
Ia pernah menjadi mereka.
Ia tahu bagaimana rasanya belajar dari nol.
Ia tahu bagaimana rasanya membutuhkan seseorang yang sabar ketika dirinya belum mampu.
Ia tahu bahwa terkadang seorang anak tidak hanya membutuhkan fasilitas.
Seorang anak membutuhkan seseorang yang percaya bahwa dirinya mampu.
Karena itulah, ketika Maryam mengajar dan mengasuh adik-adiknya, sesungguhnya ia sedang meneruskan kebaikan yang dahulu ia terima.
Ia sedang memberikan kepada anak-anak lain apa yang pernah diberikan kepadanya: kesempatan untuk tumbuh.
Sebuah Kepercayaan yang Berbuah Perjalanan Panjang
Bagi seorang wali, menyerahkan pengasuhan seorang anak kepada lembaga tentu bukan perkara sederhana.
Ada kepercayaan yang dititipkan.
Ada harapan yang disematkan.
Ada masa depan seorang anak yang dipercayakan untuk dibina.
Begitu pula ketika wali Maryam mempercayakan pengasuhan dan pendidikannya kepada Yayasan Al Lail.
Tidak ada yang dapat memastikan bagaimana masa depan Maryam saat ia pertama kali datang.
Tetapi satu hal dilakukan: memberinya kesempatan.
Kesempatan untuk belajar.
Kesempatan untuk mendapatkan pengasuhan.
Kesempatan untuk mengenal Al-Qur’an.
Kesempatan untuk berkembang.
Dan kesempatan untuk menemukan potensi dirinya.
Bertahun-tahun kemudian, kesempatan tersebut tumbuh menjadi sebuah kisah yang mengharukan.
Seorang anak yang dahulu datang dengan keterbatasan, kini menjadi seseorang yang ikut memberikan manfaat kepada anak-anak lain.
LKSA Al Lail: Tidak Hanya Membantu, tetapi Membina
Kisah Maryam menjadi salah satu gambaran dari semangat yang dibangun melalui LKSA Al Lail.
LKSA Al Lail hadir sebagai bagian dari ikhtiar Yayasan Al Lail dalam memberikan pengasuhan, pendidikan, pembinaan, dan pendampingan bagi anak-anak penerima manfaat sesuai dengan program dan ketentuan lembaga.
Bagi Yayasan Al Lail, membantu seorang anak bukan hanya tentang memenuhi kebutuhan hari ini.
Lebih jauh dari itu, anak perlu dipersiapkan untuk menghadapi masa depan.
Mereka dibimbing untuk mengenal Al-Qur’an, membangun karakter, belajar bertanggung jawab, mengembangkan kemampuan, serta tumbuh menjadi pribadi yang mandiri.
Karena bantuan akan menjadi lebih bermakna ketika mampu membuka jalan menuju kemandirian.
Mengubah bantuan menjadi kesempatan, dan kesempatan menjadi proses pemberdayaan.
Itulah salah satu semangat yang ingin terus dijaga Yayasan Al Lail.
Pendidikan untuk Semua, Tumbuh dalam Satu Lingkungan
Ikhtiar tersebut juga terhubung dengan pendidikan di PP. Tahfizhul Qur’an Modern Al Mubarok.
PPTQ Modern Al Mubarok merupakan lembaga pendidikan berbasis Al-Qur’an yang terbuka bagi masyarakat umum.
Masyarakat yang memiliki kemampuan finansial dapat memilih PPTQ Modern Al Mubarok sebagai lingkungan pendidikan pesantren bagi putra-putrinya dengan program dan skema pembiayaan yang ditetapkan oleh lembaga.
Namun, pendidikan di PPTQ Modern Al Mubarok tidak hanya diperuntukkan bagi santri dari masyarakat umum.
Anak-anak binaan LKSA Al Lail juga mendapatkan pendidikan di PPTQ Modern Al Mubarok sebagai bagian dari proses pendidikan dan pembinaan mereka.
Dengan demikian, pengasuhan dan pendidikan berjalan dalam satu ekosistem.
Anak-anak LKSA Al Lail mendapatkan kesempatan untuk tumbuh dan belajar di lingkungan PPTQ Modern Al Mubarok bersama santri dari masyarakat umum.
Mereka bersama-sama mempelajari Al-Qur’an, mengikuti pendidikan akademik, membangun karakter, belajar kepemimpinan, mengembangkan keterampilan, serta dipersiapkan untuk menjadi pribadi yang mandiri dan bermanfaat.
Di sisi lain, masyarakat umum juga memiliki kesempatan untuk memperoleh pendidikan pesantren yang memadukan Al-Qur’an, pendidikan, karakter, leadership, life skill, dan pengembangan kemampuan bahasa.
Dengan model tersebut, Yayasan Al Lail berusaha membangun sebuah lingkungan pendidikan yang tidak hanya berbicara tentang ilmu, tetapi juga tentang pembentukan manusia.
Al-Qur’an sebagai Fondasi, Leadership dan Kemandirian sebagai Bekal
Pendidikan di lingkungan Al Lail tidak berhenti pada kemampuan menghafal Al-Qur’an dan pencapaian akademik.
Santri juga diarahkan untuk memiliki kemampuan yang diperlukan dalam kehidupan nyata.
Mereka belajar berkomunikasi, bekerja sama, memimpin, mengambil keputusan, menyelesaikan persoalan, serta mengembangkan berbagai keterampilan yang mendukung kemandirian.
Sebab masa depan membutuhkan lebih dari sekadar kecerdasan akademik.
Dibutuhkan karakter.
Dibutuhkan keberanian.
Dibutuhkan kemampuan memimpin.
Dan dibutuhkan kesiapan untuk memberikan manfaat kepada orang lain.
Karena itu, Al-Qur’an menjadi fondasi, sementara pendidikan, leadership, keterampilan, dan kemandirian menjadi bagian dari bekal perjalanan.
Maryam adalah Salah Satu Cerita
Perjalanan Maryam tentu bukan satu-satunya kisah yang ingin dibangun Yayasan Al Lail.
Setiap anak memiliki jalan yang berbeda.
Ada yang membutuhkan waktu lebih panjang.
Ada yang memiliki kemampuan berbeda.
Ada yang datang dengan luka dan pengalaman hidup yang tidak sama.
Namun, setiap anak memiliki sesuatu yang sama:
mereka memiliki potensi untuk tumbuh.
Karena itu, kondisi seorang anak ketika pertama kali datang tidak seharusnya menjadi batas bagi masa depannya.
Anak yang hari ini belum bisa membaca mungkin suatu hari menjadi guru.
Anak yang hari ini belum percaya diri mungkin suatu hari menjadi pemimpin.
Anak yang hari ini membutuhkan pertolongan mungkin suatu hari menjadi orang yang menolong orang lain.
Dan anak yang hari ini sedang diasuh mungkin suatu hari kembali untuk mengasuh generasi setelahnya.
Seperti Maryam.
Mungkin Ada Maryam-Maryam Berikutnya
Hari ini, masih banyak anak di luar sana yang memiliki mimpi, tetapi belum memiliki kesempatan yang cukup untuk mewujudkannya.
Ada anak yatim yang kehilangan tempat bergantung.
Ada anak dari keluarga dhuafa yang memiliki potensi tetapi terkendala kondisi ekonomi.
Ada anak yang membutuhkan lingkungan pengasuhan dan pendidikan yang dapat membantunya menemukan arah masa depan.
Dan ada pula keluarga yang sedang mencari pendidikan pesantren yang tidak hanya mengajarkan ilmu, tetapi juga membangun akhlak, karakter, leadership, keterampilan, dan kemandirian.
Untuk mereka, Yayasan Al Lail berusaha membuka ruang.
Melalui LKSA Al Lail, anak-anak penerima manfaat mendapatkan kesempatan untuk diasuh, dibina, dan dididik.
Melalui PP. Tahfizhul Qur’an Modern Al Mubarok, masyarakat umum juga memiliki kesempatan mendapatkan pendidikan pesantren berbasis Al-Qur’an dengan pengembangan karakter dan berbagai keterampilan kehidupan.
Semua itu bertemu dalam satu harapan:
agar setiap anak memiliki kesempatan untuk tumbuh menjadi manusia yang berilmu, berakhlak, mandiri, dan bermanfaat.
Yayasan Al Lail Membesarkannya, Kini Maryam Membangun Generasi
Maryam mungkin tidak pernah membayangkan perjalanan hidupnya akan sampai sejauh ini.
Dari seorang anak piatu asal pelosok Madura yang hidup dalam keterbatasan ekonomi, datang ke Yayasan Al Lail sejak kelas 2 SD dan masih harus belajar membaca, menulis, serta mengaji dari dasar, ia tumbuh menjadi penghafal 30 juz Al-Qur’an, memperoleh Syahadah Qiroati, melanjutkan pendidikan hingga perguruan tinggi, dan kini menjadi mahasiswa semester 6.
Namun, kisah terindahnya bukan hanya tentang apa yang berhasil ia raih.
Melainkan tentang apa yang ia lakukan setelah berhasil.
Ia memilih kembali.
Kembali kepada tempat yang pernah merawatnya.
Kembali kepada lingkungan yang pernah mendidiknya.
Kembali kepada anak-anak yang membutuhkan pendampingan.
Dan kembali untuk ikut membangun generasi.
Mungkin di situlah makna pendidikan yang sesungguhnya.
Bukan hanya ketika seorang anak berhasil mengubah hidupnya sendiri.
Tetapi ketika anak yang dahulu dibesarkan, suatu hari memilih untuk membesarkan generasi setelahnya.
Yayasan Al Lail telah membesarkan Maryam.
Kini, Maryam ikut membangun generasi.
Dan mungkin, di antara anak-anak yang hari ini sedang mencari kesempatan, akan lahir kembali Maryam-Maryam berikutnya—anak-anak yang kelak bukan hanya mampu mengubah masa depannya sendiri, tetapi juga mampu memberikan manfaat bagi keluarga, agama, umat, dan bangsa.


